RINDU KATA RINDUMU
Kubaca kembali pesan singkatmu kala itu
Nyatanya kau pernah sebegitunya merindu
Dan aku pernah sebegininya pun begitu
Hilangmu terprediksi
Bodohku tak peduli
Aku dilucuti waktu
Ditinggal tapi tak mati
Aku dilucuti sendu
Tapi tak jua henti
Untukmu aku adalah tempat berpulang yang paling tenang
Lalu waktu menjadikan aku
singgahmu yang paling sungguh
Lacuri aku jika butuh
Aku ingin bercumbu rindu
Lacuri aku lagi jika perlu
Aku rindu kata rindumu
Lacuri aku lagi kalau begitu
Nyatanya kau pernah sebegitunya merindu
Dan aku pernah sebegininya pun begitu
Hilangmu terprediksi
Bodohku tak peduli
Aku dilucuti waktu
Ditinggal tapi tak mati
Aku dilucuti sendu
Tapi tak jua henti
Untukmu aku adalah tempat berpulang yang paling tenang
Lalu waktu menjadikan aku
singgahmu yang paling sungguh
Lacuri aku jika butuh
Aku ingin bercumbu rindu
Lacuri aku lagi jika perlu
Aku rindu kata rindumu
Lacuri aku lagi kalau begitu
Bogor, 23 Juli 2017
Oleh: Dhety Trihan
Oleh: Dhety Trihan
Hari itu rasanya rindu, sangat rindu!!!
Si jenuh menghantarkanku pada pesan singkatnya kala itu, ketika kata rindunya masih menghiasi hari-hariku. Aku tersadar, ternyata ia pernah sebegitunya merindu, aku pun begitu.
Tapi sekarang rasanya sangat jauh, tak lagi saling tunggu. Aku tahu.
Mungkin semua karena aku cemburu, atau karena ia tak lagi inginkanku. Intensitasnya mengabariku berkurang, kukira ia sedang fokus pada dunianya. Dunia yang ia lakoni sejak lama, sebelum mengenalku. Dan akupun tak masalah. Itu hidupnya, urusannya.
Ah nyatanya toleransiku buyar ketika tahu dia sedang menjalin kedekatan dengan wanita lain. Kukira itu haknya, tapi kecewapun menjadi hakku.
Kukira hanya aku, kukira ia menginginkanku, kukira aaaaah kira-kiranya manusia selalu saja salah.
Si jenuh menghantarkanku pada pesan singkatnya kala itu, ketika kata rindunya masih menghiasi hari-hariku. Aku tersadar, ternyata ia pernah sebegitunya merindu, aku pun begitu.
Tapi sekarang rasanya sangat jauh, tak lagi saling tunggu. Aku tahu.
Mungkin semua karena aku cemburu, atau karena ia tak lagi inginkanku. Intensitasnya mengabariku berkurang, kukira ia sedang fokus pada dunianya. Dunia yang ia lakoni sejak lama, sebelum mengenalku. Dan akupun tak masalah. Itu hidupnya, urusannya.
Ah nyatanya toleransiku buyar ketika tahu dia sedang menjalin kedekatan dengan wanita lain. Kukira itu haknya, tapi kecewapun menjadi hakku.
Kukira hanya aku, kukira ia menginginkanku, kukira aaaaah kira-kiranya manusia selalu saja salah.
Tak apa, aku sering kali mengalah. Tentu untuk kali ini juga. Tak ada salahnya jika ia memilih dekat dengan wanita lain, toh aku dan diapun hanya dekat tak pernah terikat.
Memang ketidaksukaan itu seringkali muncul, tapi kuredam sendiri, memulihkan apa-apaku sendiri. Membayangkan ia berbincang dengan wanita lain, membayangkan ia membacakan puisi untuk wanita lain. Kok ya rasanya nyeri. Dan pada sampai akhirnya aku berhenti, tentu karena aku tahu ia tak lagi menunggu, maka aku akan berlalu.
Sedikit usahanya meyakinkanku bahwa ia tak ingin berhenti komunikasi begitu, nyatanya tak juga melunakkanku. Aku tetap pada pendirianku, mengalah adalah sifatku.
Aku perlahan mulai berjalan mundur, kali ini tanpa lambaian tangan, berharap masih bisa melihatnya dari jauh walau agak sakit tersandung-sandung. Nyatanya kok semakin hilang, ditelan kabut. Tak ada lagi. Dimana-mana tak ada dia.
Memang ketidaksukaan itu seringkali muncul, tapi kuredam sendiri, memulihkan apa-apaku sendiri. Membayangkan ia berbincang dengan wanita lain, membayangkan ia membacakan puisi untuk wanita lain. Kok ya rasanya nyeri. Dan pada sampai akhirnya aku berhenti, tentu karena aku tahu ia tak lagi menunggu, maka aku akan berlalu.
Sedikit usahanya meyakinkanku bahwa ia tak ingin berhenti komunikasi begitu, nyatanya tak juga melunakkanku. Aku tetap pada pendirianku, mengalah adalah sifatku.
Aku perlahan mulai berjalan mundur, kali ini tanpa lambaian tangan, berharap masih bisa melihatnya dari jauh walau agak sakit tersandung-sandung. Nyatanya kok semakin hilang, ditelan kabut. Tak ada lagi. Dimana-mana tak ada dia.
Pada purnama berikutnya, kucari tahu kabarnya. Sekedar ingin tahu, apa dia masih ada di bumi. Kukira itu penting.
Nyatanya semua telah jauh berbeda, ia lebih tanggung dari yang kukenal beberapa waktu lalu. Coba mengungkit soal kedekatan ia dengan wanita itu, hanya ingin tahu sudah sejauh apa rasa mereka tumbuh, apakah lebih pekat dari apa yang aku rasa?
Aaaaah betapa terkejutnya aku bahwasanya ia tak pernah dekat dengan wanita itu. Semua hanya pikiran konyolku, terlalu dini menelan informasi, tanpa konfirmasi. Aku tak pernah sebegitu bodohnya dibudaki cemburu. Mengambil keputusan tanpa ancang-ancang dulu.
Tapi semua sudah terjadi, dan aku paham betul. Bahwa jika semuanya telah berubah, entah keadaan ataupun perasaannya. Kukira itu semua salahku. Mungkin hatinya sudah tak lagi padaku. Dan aku terima, kuanggap itu hukuman atas kelalaianku menjaga perasaanku sendiri. Ketika aku menjauh, nyatanya ia juga. Kami sama-sama menjauh. Sempurnalah jarak kami. Dari yang jauh semakin jauh.
Aaaaah betapa terkejutnya aku bahwasanya ia tak pernah dekat dengan wanita itu. Semua hanya pikiran konyolku, terlalu dini menelan informasi, tanpa konfirmasi. Aku tak pernah sebegitu bodohnya dibudaki cemburu. Mengambil keputusan tanpa ancang-ancang dulu.
Tapi semua sudah terjadi, dan aku paham betul. Bahwa jika semuanya telah berubah, entah keadaan ataupun perasaannya. Kukira itu semua salahku. Mungkin hatinya sudah tak lagi padaku. Dan aku terima, kuanggap itu hukuman atas kelalaianku menjaga perasaanku sendiri. Ketika aku menjauh, nyatanya ia juga. Kami sama-sama menjauh. Sempurnalah jarak kami. Dari yang jauh semakin jauh.
Tapi aku percaya Tuhan maha membolak-balikkan hati manusia.
Berdoalah, karena Tuhan lebih berkuasa.
Aku jadi ingat kutipan dari Ali Bin Abi Thalib :
"Sungguh wanita mampu menyembunyikan cinta selama 40 tahun. Tapi tak dapat menyembunyikan cemburu walau hanya sesaat"
Kukira itu benar, aku tak pernah merasa sebodoh ini. Berlarut-larut atas kecemasan yang kuwaspadai sendiri.
Hay....
Maaf karena aku telah sebodoh ini
Maaf karena aku sempat membuatmu meminta maaf
Maaf karena aku terlalu cepat berasumsi
Maaf karena nyatanya akupun pernah menginginkanmu. Entah untuk sekarang, aku tak pernah berharap pada apa yang bukan milikku.
Semoga kau berbahagia, semoga akupun bahagia. Kita sama-sama bahagia.
Karena yang terpenting untukku saat ini, kamu masih ada di bumi. Selebihnya, terserah Tuhan.
Maaf karena aku telah sebodoh ini
Maaf karena aku sempat membuatmu meminta maaf
Maaf karena aku terlalu cepat berasumsi
Maaf karena nyatanya akupun pernah menginginkanmu. Entah untuk sekarang, aku tak pernah berharap pada apa yang bukan milikku.
Semoga kau berbahagia, semoga akupun bahagia. Kita sama-sama bahagia.
Karena yang terpenting untukku saat ini, kamu masih ada di bumi. Selebihnya, terserah Tuhan.





