Kamis, 17 Agustus 2017

Cemburu



RINDU KATA RINDUMU

Kubaca kembali pesan singkatmu kala itu
Nyatanya kau pernah sebegitunya merindu
Dan aku pernah sebegininya pun begitu
Hilangmu terprediksi
Bodohku tak peduli
Aku dilucuti waktu
Ditinggal tapi tak mati
Aku dilucuti sendu
Tapi tak jua henti
Untukmu aku adalah tempat berpulang yang paling tenang
Lalu waktu menjadikan aku
singgahmu yang paling sungguh
Lacuri aku jika butuh
Aku ingin bercumbu rindu
Lacuri aku lagi jika perlu
Aku rindu kata rindumu
Lacuri aku lagi kalau begitu



Bogor,  23 Juli 2017
Oleh: Dhety Trihan



Hari itu rasanya rindu,  sangat rindu!!! 
Si jenuh menghantarkanku pada pesan singkatnya kala itu,  ketika kata rindunya masih menghiasi hari-hariku.  Aku tersadar, ternyata ia pernah sebegitunya merindu,  aku pun begitu.
Tapi sekarang rasanya sangat jauh,  tak lagi saling tunggu. Aku tahu.
Mungkin semua karena aku cemburu, atau karena ia tak lagi inginkanku. Intensitasnya mengabariku berkurang,  kukira ia sedang fokus pada dunianya.  Dunia yang ia lakoni sejak lama, sebelum mengenalku. Dan akupun tak masalah. Itu hidupnya, urusannya.
Ah nyatanya toleransiku buyar ketika tahu dia sedang menjalin kedekatan dengan wanita lain. Kukira itu haknya,  tapi kecewapun menjadi hakku. 
Kukira hanya aku, kukira ia menginginkanku, kukira aaaaah kira-kiranya manusia selalu saja salah.
Tak apa,  aku sering kali mengalah.  Tentu untuk kali ini juga. Tak ada salahnya jika ia memilih dekat dengan wanita lain,  toh aku dan diapun hanya dekat tak pernah terikat.
Memang ketidaksukaan itu seringkali muncul,  tapi kuredam sendiri,  memulihkan apa-apaku sendiri. Membayangkan ia berbincang dengan wanita lain,  membayangkan ia membacakan puisi untuk wanita lain.  Kok ya rasanya nyeri. Dan pada sampai akhirnya aku berhenti, tentu karena aku tahu ia tak lagi menunggu,  maka aku akan berlalu.
Sedikit usahanya meyakinkanku bahwa ia tak ingin berhenti komunikasi begitu,  nyatanya tak juga melunakkanku.  Aku tetap pada pendirianku,  mengalah adalah sifatku.
Aku perlahan mulai berjalan mundur, kali ini tanpa lambaian tangan,  berharap masih bisa melihatnya dari jauh walau agak sakit tersandung-sandung.  Nyatanya kok semakin hilang,  ditelan kabut.  Tak ada lagi. Dimana-mana tak ada dia.

Pada purnama berikutnya,  kucari tahu kabarnya.  Sekedar ingin tahu,  apa dia masih ada di bumi.  Kukira itu penting.
Nyatanya semua telah jauh berbeda, ia lebih tanggung dari yang kukenal beberapa waktu lalu. Coba mengungkit soal kedekatan ia dengan wanita itu, hanya ingin tahu sudah sejauh apa rasa mereka tumbuh, apakah lebih pekat dari apa yang aku rasa?
Aaaaah betapa terkejutnya aku bahwasanya ia tak pernah dekat dengan wanita itu. Semua hanya pikiran konyolku,  terlalu dini menelan informasi,  tanpa konfirmasi. Aku tak pernah sebegitu bodohnya dibudaki cemburu.  Mengambil keputusan tanpa ancang-ancang dulu.
Tapi semua sudah terjadi,  dan aku paham betul.  Bahwa jika semuanya telah berubah, entah keadaan ataupun perasaannya.  Kukira itu semua salahku. Mungkin hatinya sudah tak lagi padaku. Dan aku terima, kuanggap itu hukuman atas kelalaianku menjaga perasaanku sendiri. Ketika aku menjauh,  nyatanya ia juga.  Kami sama-sama menjauh.  Sempurnalah jarak kami. Dari yang jauh semakin jauh. 

Tapi aku percaya Tuhan maha membolak-balikkan hati manusia. 
Berdoalah, karena Tuhan lebih berkuasa.

Aku jadi ingat kutipan dari Ali Bin Abi Thalib :
"Sungguh wanita mampu menyembunyikan cinta selama 40 tahun.  Tapi tak dapat menyembunyikan cemburu walau hanya sesaat"


Kukira itu benar,  aku tak pernah merasa sebodoh ini.  Berlarut-larut atas kecemasan yang kuwaspadai sendiri. 

Hay....
Maaf karena aku telah sebodoh ini
Maaf karena aku sempat membuatmu meminta maaf
Maaf karena aku terlalu cepat berasumsi
Maaf karena nyatanya akupun pernah menginginkanmu. Entah untuk sekarang,  aku tak pernah berharap pada apa yang bukan milikku.
Semoga kau berbahagia,  semoga akupun bahagia. Kita sama-sama bahagia.
Karena yang terpenting untukku saat ini,  kamu masih ada di bumi. Selebihnya, terserah Tuhan.

Kamis, 10 Agustus 2017

AKU HAMIL




Jadi begini hahaha
Hari ini seperti biasa, rutinitasku sehari-hari selama kurang lebih tiga bulan ini.  Aku membeli air kelapa muda,  untuk diminum tentunya. Aku tidak akan menjelaskan kenapa aku minum air kelapa karena dalam tulisanku yang berjudul "INTUISI" sudahku jelaskan.
Sangking seringnya aku beli air kelapa,  dan entah kenapa si abang baru sempat menanyakan itu kepadaku.  Begini kira-kira pertanyaannya

"neng lagi hamil yah? Minum air kelapa setiap hari ?"

Ahahahaha sial aku dikirai hamil,  lalu aku jawab hanya dengan cengengesan berharap si abang mengerti kalau itu tidak benar. Wong pacar aja gak punya,  apalagi suami.
Dan dijalan pulang aku terbesit kejadian 3 tahun lalu, kira-kira saat aku Semester 3. Saat aku mengerjai temanku (namanya Fanny)  kukatakan kalau aku hamil hahaha dan dia percaya.  Oh Tuhan !!!!!
Dari delapan teman dekatku,  hanya dia makhluk yang percaya kalau aku hamil. 
Bermula ketika aku dimintai tolong oleh teman SMAku untuk menyebarkan undangan pernikahannya. Entah apa yang terjadi sebelumnya,  yang aku ingat aku mengatakan kalau undangan itu milikku,  aku akan menikah karena sudah dihamili duluan.  Entah kenapa makhluk berjidat lebar itu langsung mempercayainya,  padahal ia tahu betul bahwa aku sedang tidak punya pacar saat itu hahaha

(Ah maaf aku menulis blog ini sembari tertawa ngakak)

Lalu,  ketika di kampus otak jahatku terus memainkan kebohongan itu hahaha rasanya sungguh konyol melihat mimik mukanya yang khawatir akan aku, dan bayiku tentunya. Tapi sebelumnya teman-temanku yang lain saat aku kerjai mereka lebih bisa menebak kalau aku berbohong,  ah hanya fanny yang percaya haha aku lanjutkan saja.

"fan,  gue cerita ke anak-anak lainnya gimana yah.  Gue malu banget." kataku.

"gakpapa det,  jujur sekarang aja.  Kalau dirahasiain nantinya mereka bakal tau juga." sahutnya.
 
Aaaaaaaah sunggu, saat itu aku menjadi orang terkuat sejagad raya yang mampu menahan tawa dengan kondisi seperti itu wkwk
Hujan turun, kami terjebak di gedung akuntansi,  suasananya betul-betul mendukung drama brengsekku. Seakan Tuhan merestui bahwasanya aku mengerjai sahabat baikku itu.

"ke lantai dua aja yu. Disini becek, kecipratan air."

kata salah satu temanku, entah siapa.  Mungkin Ricky. Ketika kami mulai beranjak,  sahabat baikku yang sedang berlarut-larut atas kebohonganku berbisik lihir penuh ketulusan

"dhet,  hati-hati jalannya.  Licin."

Ahahahahahahahahahaha brengseeeeek!!!!!!  Aku ngakak.
Sumpah saat itu entah kekuatan dari mana,  jago sekali aku menahan tawa. 
Aku saja lupa kalau aku sedang berperan sebagai wanita hamil haha dia justru mengingatkanku. Betapa iblisnya aku saat itu,  nyengir atas ketulusan manusia lain.
Setelah sampai dilantai dua,  kekampretan teman-temanku yang lain mendukung penuh dramaku.

"lu mual det?  Kaya lagi hamil aja." 

aaaah aku ingat betul itu ucapan temanku si Dana haha.  Lalu aku saling pandang dengan fanny,  seolah-olah aku tersinggung.  Padahal... Hahahaha pasti saat itu fanny merasa ia mengetahui segala-galanya, tapi justru ia paling yang tidak mengetahui bahwa ia sedang dikerjai haha
Kami memutuskan menunggu di dalam salah satu kelas kosong, berharap hujan cepat reda karena kami lapar, bayiku juga lapar hahaha.

*didalam kelas kosong

"eh,  gue mau ngomong sesuatu.  Serius nih." kataku, 

lalu pandanganku tertuju kepada fanny,  seperti meminta dukungannya.  Tentu manusia baik itu pun mengangguk,  sangat yakin.  Dan sangat sedih tentunya.

"gini... Jadi gue bakal nikah," jelasku

Sebelum aku meneruskan,  pertanyaan-pertanyaan palsu temanku mulai menyerang. Ada yang berlagak tidak percaya,  ada yang diam saja seolah hanya ingin menyaksikan tidak ingin ikut-ikutan hahaha

"iya memang mendadak. Gue tau kok,  tapi sekarang gue lagi hamil." 

lalu aku menangis,  tapi tangisku pura-pura,  tidak dengan fanny.  Dia betul-betul sedih. Tapi aku tertawa kalau ingat hal itu haha

"dan sekarang gue udah jujur,  udah ngomong semuanya.  Terserah kalian masih mau jadi temen gue atau engga. Gue pasrah." lanjutku.

Lalu muka mereka terlihat heran,  entah sedang keheranan karena aku berakting bagus atau justru mereka sedang memperbagus aktingnya masing-masing.
Aku hanya menangis,  fanny juga.  Temanku Rita tidak,  karena dia tau aku sedang berbohong hahaha
Setelah hening beberapa saat,  aku meneruskan

"tapi ada satu hal lagi yang belum gue certain sama kalian semua.  Terutama fanny."

Wajah fanny berubah jadi pias,  seperti keheranan campur bingung mendalam.

"apa lagi dhet?" kata fanny.

Agar lebih klimaks aku menangis lagi,  tangisku lebih parah dari sebelumnya. Hanya untuk mendramatisir,  tapi sugguh,  saat itu aku menangis karena sedih.  Entah sedih kenapa,  karena melihat ketulusan fanny atau karena terlalu mendalami peran.

"gini fan, gue baru berani cerita ini sekarang sama lu.  Jadi...  Semua hal yang gue omongin tadi" 

aku diam sesaat,  menghela nafas panjang

"itu semuaaaa... BOHONG" 

HAHAHAHAHA lalu tawaku dan teman-temanku yang lain memenuhi kelas kosong itu,  menggema disela-sela isak tangis fanny.  Kukira ia akan ikut tertawa juga,  aaaaah aku salah besar !!!!! Dia menangis,  lebih sedih dari yang aku perankan tadi.  Sekecewa itu dia atas kebohonganku, terisak sampai sebegitunya.  Ada sedikit rasa sesal telah membohongi makluk Tuhan yang satu itu,  tapi aku bahagia.  Bahwasanya dia benar-benar telah menjadi sahabatku. Saat detik itu juga,  aku berjanji pada diriku sendiri akan mengecam siapapun yang membuatnya menangis.
Setelah agak tenang ia berkata

"gue tuh nyesek pas tau gue dibohongin.  Tapi gue juga lega karena itu semua cuma bohong."

Aaaah kalimat menetramkan,  kebahagian sederhana yang aku dapat hari itu. 
Maaf karena telah berdusta semahir itu. 
Maaf karena sudah repot-repot menangisi sahabat tidak tau diri ini.
Maaf juga sudah membuatmu khawatir sebegitu dalamnya.
Dan maaf jika aku selalu tertawa terbahak-bahak jika ingat kejadian itu hahaha 
tapi jujur mengerjaimu saat itu kok menyenangkan :p
aku cocok kan jadi artis? haha

Eeeeeh aku ingat,  ada satu manusi lain yang percaya kebohongan itu.  Namanya Hizkia ah biasanya aku panggil ia "Bama" karena mirip obama hahaha selain jidatnya yang juga lebar seperti Fanny,  nyatanya iya juga gampang dibohongi -___- seperti kejadian fanny tadi,  bedanya saat membohongi bama, si fanny sudah tahu kalau aku sedang bohong hahaha membuat drama kedua kalinya,  jadi tidak sebagus sebelumnya.  Tapi tetap saja si hitam itu percaya kalau aku hamil hahaha

"mau lu hamil atau apapun, lu tetep sabahat kita kok dhet.  Tenang aja kita terima lu apa adanya" 

dengan mata berbinar-binar yang sangat tidak singkron dengan kelakuannya sehari-hari haha,  makhluk konyol itu menjadi begitu serius ketika aku bohongi.
Bedanya, saat dia tau itu semua bohong. Justru dia tertawa hahaha tidak seperti fanny yang menangis.  Ah dasar laki-laki. Kurang perasa hahaha
Hari itu pekat sekali dalam ingatanku,  entah dengan ingatan teman-temanku yang lain.  Ini suatu keanehan yang pernah kurasakan.  Kok sebahagia ini sudah membohongi teman-temanku haha anggap saja cerita itu kenang-kenangan untuk kalian dariku.  Dan semoga Tuhan memaafkanku atas itu. Amin.



Bogor,  10 agustus 2017
18.01


Rabu, 09 Agustus 2017

Kewajaran





Tengadah aku
Mengirup wangi kejenuhan si mati
Ia hengkang dari peradaban hari
Meninggalkan si pesakitan ini
Tanpa aba
Berjalan tak berarah
Yang dia tahu
Enyah dariku adalah kudu
Tak begitu
aku telah cemburu pada waktu
Biru bercampur sendu
Si mati tetap tak mau tahu
Luas sekali angkuhmu
Aku telah hempaskan harga diri
Si mati menertawai lalu pergi
Lelucon ini
Aku ini
Tak akan mati tanpa si mati


Bogor,  02 juni 2017

11.35



Itu hari pertama ketika ia tak lagi mengganggu hari-hariku. Ah tak apa,  toh itu haknya. Dan sedih pun menjadi hakku.
Tapi sedihku masih bisa dikendalikan, kukira itu wajar.  Dia seperti laki-laki sebagaimana mestinya,  selalu menghujani lalu hilang, dan pergi. 
Dan akupun sebagaimana perempuan pada mestinya,  selalu percaya bahwa ia akan kembali lalu menyesal lagi nanti.

Minggu, 06 Agustus 2017

INTUISI

          Bermula pada hari kamis malam tanggal 3 Agustus 2017 kira-kira pukul 12 malam. Aku mulai terkantuk, padahal saat itu masih terlalu siang untuk manusia sepertiku yang sehari-harinya selalu insomnia. Eh insomnia disini dalam artian sebenarnya ya. Biasanya aku baru bisa tidur sehabis subuh atau bahkan pagi hari. Tapi karena beberapa hal baik yang rutin aku lakukan,  insomniaku mulai membaik.  Merasakan kantuk di jam 12 malam rasanya adalah sebuah anugerah haha kemajuan yang sangat besar dalam hidupku. Itu karena aku disarankan rutin meminum air kelapa hijau dan berolahraga oleh seseorang.  Kupikir bukan karena olahraganya,  tapi karena air kelapanya.  Jika hanya sekedar olahraga,  sebelumnya aku memang berolahraga tapi insomku tak berkurang.  Oh yah lanjut ke saat aku ngantuk tadi, sebelum aku tidur biasanya aku memanggil nama seseorang,  hmmm konyol memang. Perihal ini kira-kira sudah kulakukan selama 3 bulan belakangan hahaha ah malu. Aku dan dia percaya intuisi,  percaya kalau aku memanggilnya dari jauh dia akan merasakannya,  begitu juga sebaliknya. Malam itu rasanya sungguh rindu, maka kupanggil namanya banyak-banyak sampai aku tertidur.  Entah dia merasakannya atau tidak. Kuharap iya. Kali ini aku peduli. Semoga intuisinya pun tertuju kepadaku.

          Tapi malam itu rasanya aneh, sangat gelisah.  Tidak seperti malam-malam tenang lainnya,  lirih malam itu berbeda.  Lirihnya bercampur kengerian.  Aku keringat dingin, terbangun beberapa kali.  Sulit untuk tidur dengan nyenyak. Aku tertidur tapi rasanya isi kepalaku terganjal batu besar. Dan aku sadar betul kalau ada yang tidak beres denganku atau mungkin sekitarku?
Seperti biasa, kucoba mengatur kondisiku sendiri,  menenangkan diri, memulihkan apa-apaku sendiri.  Lalu mencoba tidur kembali.  Sampai pada pagi aku terbangun dengan gelisah yang sama. Rasa tidak enak itu masih melekat kuat dalam diriku,  aku berpikir keras apa yang membuatku begitu.  Jujur aku sedang tidak punya masalah berat yang mengharuskanku khawatir akan diriku sendiri. Atau mungkin karena malam itu aku sedang menstruasi, rutinitas perempuan yang tidak karuan rasanya, ah tetapi biasanya tidak sebegitunya kok. Jika pun ada yang sedang menggangguku,  kukira itu hanya rindu.
       
         Hari itu aku menjalani hariku seperti biasa,  mencoba melupakan apa yang kurasa sejak semalam. Ah pada siangnya aku baru sadar kalau tadi malam itu malam jumat,  ah ngeri sekali mengingatnya. Haha aku penakut?  Iya memang, biarin!
Sampai pada malam kedua dimalam sabtu, sama seperti hari sebelumnya jam 12 malam aku sudah mulai mengantuk hahaha air kelapa itu supeeeer sekali. Selalu menentramkan. Sama seperti manusia yang menyaraninya, ah aku jadi candu air kelapa karena dia.  Hal konyol yang aku lakukan ketika aku rindu akan dia,  aku selalu melakukan hal-hal baik yang ia sarankan. Dengan begitu aku rasa aku sudah menyampaikan rinduku. Memang konyol,  jika kau ingin menertawaiku aku persilahkan.

Oh iya tapi untuk malam itu, karena sangat mengantuk aku lupa memanggil namanya. Lelap lebih dulu datang. Baru sekejap aku terlelap, aku mendengar ada yang memanggil namaku.  Entah itu suara laki-laki atau perempuan tapi panggilan itu sontak membuatku terbangun. Kaget rasanya,  jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku mencari-cari botol minum karena rasanya krongkonganku mengering dan sakit sekali. Keringat bercucuran seperti malam sebelumnya,  tapi dingin. Rasanya gelisah,  bingung sekali. Ah aku yakin sebelumnya aku sedang sehat-sehat saja.
Lalu kupulihkan diriku kembali, kutanamkan pikiran-pikiran baik,  kuanggap saja dia yang kemarin kusebut namanya sedang menyebut namaku juga malam ini, lalu diterima dengan pintar oleh intuisiku. Ah seperti biasa aku menenangkan diri kembali lalu terlelap lagi. 

          Dalam tidurku kali ini aku bermimpi ada sosok wanita yang memperhatikan ketika aku sedang tertidur,  lalu aku beranikan diri menatapnya balik. Berharap jika aku kuat-kuat menatapnya, sosok itu akan hilang dengan sendirinya. Ternyata tidak !!! justru wajah wanita itu semakin jelas karena kuperhatikan dalam-dalam.  Dia hanya menatapku tidak melakukan pergerkan apapun,  lalu dimimpi itu aku gagap tidak bisa teriak sampai pada aku mencoba meyakinkan diriku sendiri kalau itu hanya mimpi. Lalu aku terbangun,  tapi wajak sosok wanita sangat melekat dalam ingatan. Pekat sekali mimpiku malam itu. Mimpi paling buruk yang pernah aku alami. Rasanya malam itu aku ingin lenyap saja dari bumi. Banyangkan betapa ngerinya,  aku merasa diwaspadai. Merasa ada makhluk lain disekitarku yang sedang memperhatikan gerak-gerikku. Aku sama sekali tidak berani melakukan pergerakan apapun,  hanya berselimut sambil pura-pura memejamkan mata. Lalu aku (selalu) ingat dia yang namanya sering kusebut sebelum tidur,  dan memberanikan diri mengirimkan pesan singkat untuknya. Tapi tak ada jawaban. Seperti hari-hari kemarin. Haha sudah biasa.

Ah betapa bersyukurnya aku ketika tahu ternyata ada temanku yang masih terjaga,  lalu aku menjelaskan padanya apa yang kurasa.  Lalu dia menawarkan diri untuk menemani, walau hanya di aplikasi pesan singkat saja. Tapi itu cukup membantu, mengalihkan pikiranku. Berbincang sampai subuh,  lalu aku dengar suara mamaku yang sudah terbangun.  Ah rasanya tentram, seperti dilindungi dari segala jenis bahaya.
Lebih bahagianya lagi aku mendengar adzan subuh huuuuh entahlah sejak dulu aku berpikir bahwa adzan subuh adalah sebuah peringatan bahwa makluk halus harus menjauh dari manusia hahaha jangan protes atas pikiranku,  ini kan otakku, hakku!!! 

Malam selanjutnya seperti biasa,  seperti malam-malamku yang lain aku tetap menyebut nama dia yang selalu kusebut. Dengan harapan tak ada yang bersaut menyebut kembali namaku. Biar begitu saja. Sepi, tak ada jawaban.  Aku suka menerka-nerka.  Begitu saja... Aku suka.




Bogor, 06 agustus 2017
18:07

Selasa, 09 Mei 2017

Bahagia Yang Saling Melukai #part 1



Cinta merupakan sepaket rasa yang membalut berbagai ekspresi hati yang tengah merajalela, mengalahkan bentuk lain dari kasih sayang. Membentuk lekuk senyuman yang terkadang menyulitkan kegilaan tidak masuk akal, kebutaannya dapat mengikis habis benteng harga diri yang dijunjung tinggi, menyapu  debu kehidupan insan yang kesepian. Hadirnya memancarkan satu sinar terang di tengah badai, mengubah 7 lapisan warna pelangi menjadi satu warna yaitu “merah muda”. seharusnya, hanya merah muda warna yang berserakan di cawan hatiku. Tapi...
Tapi tidak dengan perasaanku saat ini, cinta tak seindah itu jika bersemi di waktu yang tak tepat, mendarat tepat di hutan terlarang yang di tinggal pergi para pendaki kebahagiaan, yang tersisa hanya kenangan pagi yang menyisakan embun diatas bebatuan, hanya bangkai daun kering berserakan tak bernyawa tanpa tangkai, dan hanya sekedar kesunyian yang ditemani tetesan hujan semalam. Pendaki kebahagiaan itu pergi tanpa tau isi hatiku, melangkah dengan penuh kecewa karena ketidak pekaanku yang enggan menoleh kebelakang, menuruni satu-persatu bukit harapan dan mencoba menghapus jejaknya tanpa berniat untuk kembali. Aku tahu hatinya hancur, bagai remukan kayu tua yang  kehilangan nyawa, aku tahu hatinya terluka, bagai goresan pisau terkena tepat pada nadinya. Tapi bagaimana ia bisa menuruni bukit tanpa naik kepuncak terlebih dahulu.
            Namaya Runda, ia adalah sang pendaki kebahagiaan itu, ia sosok lelaki sederhana yang mempunya seringai senyum mematikan, dengan kemampuannya menggoreskan tinta-tinta kenyamanan pada hatiku. Aku sendiri adalah Dhety seorang wanita yang sangat beruntung mempunyai sahabat seperti Runda. Kami bersahabat sejak SMA, entah bagaimana aku bisa mengenalnya akupun tidak begitu ingat, yang aku ingat ia adalah sosok yang selalu ada dalam hujan air mataku atau hangatnya matahari bahagiaku. Kita berbeda sekolah bahkan berbeda usia, tapi apapun perbedaan itu membuat kami semakin erat. Saat itu ia lebih dulu lulus sekolah dan memutuskan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi di kota Semarang , setahun kemudian aku yang memutuskan untuk menetap sementara di kota Jakarta. Dengan terpisah jarak dan waktu kami yang semakin menjauh tak pernah melemahkan komunikasi, walau begitu masing-masing kami telah memiliki kekasih dan aku rasa persahabatan yang sudah terjalin lama ini tidak mengganggu aktivitas dalam membahagiakan pasangan kami. Runda adalah sosok lebih dari sekedar sahabat, ada perasaan nyaman jika dekatnya, ada perasaan aman ketika bersamanya dan perasaan itu menurutku perasaan wajar terhadap seorang sahabat. Ia adalah salah satu inspirasiku, kemandiriannya telah membuatku kagum, kagum yang sewajarnya...
Suatu ketika kami bertemu di suatu kesedihan yang sama , kesedihan akan runtuhnya kisah cinta kami pada masing-masing pasangan. Sesaknya jiwa, hancurnya harapan pada sosok seorang kekasih, aku tuangkan semua pada Runda begitu juga dia. Ia senantiasa mendengarkan, menasehati bahkan menyemangatiku, langit malam selalu menjadi saksi senda gurau, jerit dan tangis yang terselip dalam perbincanganku dengannya via telfon.
            Pada kesempatan yang diberi oleh takdir, Runda menyempatkan mampir ke Jakarta untuk menemui sahabatnya ini. Aku menjemputnya di Stasiun Manggarai.
“makin hitam aja kamu Run..” sapaku ketika bertemu dengannya
“kamu juga  makin gembil aja..hahaha”  candanya
Entah mengapa ada rasa begitu bahagia melihat sosok sahabatku yang jail itu, setelah sekian lama tidak bertemu ia tidak banyak berubah. Masih dengan postur tubuhnya yang tinggi, rambut hitam yang agak keriting, dan kulit yang sekarang mulai gelap seperti gula jawa. Hari itu kami menghabiskan waktu mengelilingi ibu kota hingga larut malam, setelahnya ia memutuskan menginap di rumah tantenya lalu dua hari kemudian  ia mengabarkan akan kembali ke kota semula. Aku mengantarnya ke stasiun hingga keretanya datang, ada perasaan sedih dalam benakku saat melepas kepergiannya, tapi ada getar kebahagiaan dibaliknya.
Sesampainya disana ia mengabariku, dan kami menjalani hidup seperti biasanya, sewajarnya. Kehadiran Runda membuatku kembali bersemangat, membuatku bertahan pada aliran air yang deras, dan perlahan menepi lalu melupakan masalalu, melupakan mantan kekasihku. Aku sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti dia yang dapat menyayangiku sebagaimana lelaki menyayangi kekasihnya, menjagaku sebagaimana kakak laki-laki menjaga adik perempuan kecilnya.
            Tetapi malapetaka itu datang , ketika aku bersandar dalam kenyamanan ada petir yang merusak telingaku, bidikanku tepat saat ini, hatiku mengalirkan darah kekecewaan, mataku kosong bagai ruangan yang menghasilkan gemma, otakku mengeras seperti tergganjal batu besar. Malam itu  waktu telah mengkhianati persahabatan kami...
“aku ingin membicarakan sesuatu yang cukup penting.” Kata Runda
“sesuatu apa? Tidak biasanya kamu serius seperti ini  ?” sahutku
“sebenarnya selama ini aku menyukaimu, aku telah memendam perasaan ini sejak lama. Maaf...” ucapnya
            Jantungku terasa tak lagi berdetak, lidahku membeku seketika, pandanganku kosong. Rasanya aku ingin di tembak mati saja, kalimat terakhir yang diucapkan Runda adalah malapetaka bagi persahabatan kami, kalimat itu adalah kalimat bukan pertanyaan yang tak sempat memiliki jawaban. Dengan keadaan setengah sadar tak kuduga aku menekan tombol berhenti pada ponselku, hatiku hening, tetapi otakku dipenuhi banyak pertanyaan “mengapa bisa?”. Tak ku sangka malam itu adalah malam terakhir aku mendengar suaranya, malam itu adalah malam yang telah merenggut kebahagiaan persahabatan kami, malam yang menghempaskan kenyamanan hati kami.
Keesokan harinya,  entah iblis apa yang merasukiku. Meninggikan keangkuhanku karena untuk mengabari sahabatku seperti biasanya saja aku tak mampu. Entah apa yang Runda rasakan setelah kejadian semalam, rasa kecewa? Terluka ? atau apa? Tapi sungguh aku tidak bisa menerima perasaan yang disebut “cinta” itu meruntuhkan tiang kokoh persahabatan kami yang telah dibangun sejak lama. Bahkan aku sendiri tidak mengerti mengapa ia bisa merasakan perasaan itu terhadap sahabatnya sendiri?
            Hari berlalu tanpa ada kabar darinya, kami bagai musuh yang telah mendendam lama. Tanpa menyapa, tanpa ingin mengingat, bahkan tanpa mengakui pernah saling mengenal. Suatu ketika jauh dari hari setelah kejadian itu, mungkin kira-kira hampir seribu purnama. Lalu aku mendapat kabar bahwa Runda telah memiliki kekasih baru, hatiku tercabik, rasanya semua saraf ditubuhku tak berfungsi, otakku tak dapat berfikir lagi. Milikku diambil orang. Persahabatanku hancur, hatiku rapuh, bahkan hidupku abu-abu.

SIALAN!!!!!! Keadaan berbalik kepadaku, aku mulai menyadari bahwa ada perasaan yang disebut “cinta” masuk dalam diriku terhadap Runda, baru aku sadari “aku mencintainya” . Semua telah terlambat, ia sudah milik orang lain dan mungkin saat ini aku hanyalah sampah masalalu baginya. Aku murka pada diriku sendiri, mengapa baru aku sadari ia begitu berarti. Tapi setelah ia pergi.
Musim berganti, aku menjalani hariku tanpa Runda. Rasanya sepi tapi aku mulai terbiasa berjalan dengan menutup mata dalam kesepian itu. Saat ini aku tak lagi mendengar kabarnya, kami bagai matahari dan bulan yang tak pernah menyapa bahkan tak pernah bertemu. Takdir menjauhkan kami, keadaan membatasi kisah kami. Suatu ketika aku sangat merindukannya, benar-benar merindu seperti kaktus yang merindu hujan di padang pasir. Tapi bulan sesekali bertemu matahari dalam suatu gerhana. Ku buang semua keangkuhanku, ku hempaskaan harga diriku, aku memberanikan diri mencari keberadaannya, dan menanyai keadaannya. Niat baikku di sambutnya dengan baik pula.
“Runda ?” tanyaku di salah satu jejaring sosial
“eh iya dhet? Kemana saja kamu?” jawabnya
“kamu yang kemana saja ?” sahutku
“ponselku hilanng jadi tidak bisa menghubungimu” jelasnya
Saat ini ketika aku menulis cerita ini, perasaan yang menghancurkan persahabatan kami masih kokoh tumbuh dalam hatiku, jawaban atas kalimat bukan pertanyaan itu masih tersimpan rapih dalam benakku, aku masih mencintainya. Mencintai sahabatku yang mungkin sudah berhenti menghadirkan aku dihidupnya, dan entah sampai kapan aku menyimpannya. Waktu hanyalah waktu, masalalu sudah berlalu. Walaupun kami telah menjalin komunikasi kembali tetapi tetap saja aku merasa ada yang berbeda, seperti ada benteng yang membatasi kami, tiang persahabatan kami benar-benar telah runtuh, aku bukan siapa-siapa lagi baginya. Sebegitu berdosakah aku tak menjawab kalimat bukan pertanyaan itu ? sekecewa itukah ia padaku ? tidakah  ia mau mendaki lagi pada bukit harapan di hatiku? Kini aku telah kehilangan...

Dear Runda...
jangan pernah kamu lupakan bahwa kita pernah berjalan bersama
Jangan pernah kamu lupakan bahwa kita..
 pernah menjadi sepasang sayap yang memeluk langit...
Dan pada akhirnya kita adalah bahagia yang saling melukai
Kita adalah bunga yang bermekar pada musimnya
Kita hanyalah setia yang telah tiada
Dan kita adalah rindu yang tertunda
Kini aku telah kehilangan...


Kamis, 13 April 2017

Puisi bagi saya adalah...

Puisi adalah....
Eeeets tenang saja saya gak akan copas devinisi puisi dari google atau wikipedia ko hahaha
Karena seperti dalam postingan pertama saya,  blog ini akan jadi sarana pendapat atau opini saya mengenai sesuatu hal. 
Termasuk tentang puisi!

Jadi awal bagaimana saya menyukai puisi itu,  kira-kira sejak SMP.  Pada tahun 2006 ponsel merupakan barang yang cukup sulit untuk dimiliki.  Jadi biasanya saya memakai sarana surat menyurat dan korban pertama yang saya cekoki puisi adalah seorang kaka kelas. Tenang,  dia seorang anak perempuan ko saat itu.  Kita memang dekat,  selayaknya adik dan kakak. Namanya saja Bunga haha surat-surat itu hanya ajang untuk kita berdiskusi,  entah soal keluarga ataupun persoalaan remaja lainnya.  
Karena terlalu jenuh dengan isi surat yang begitu-begitu saja,  jadi saya memutuskan untuk mencoba menulis puisi.  Ah ternyata mendapatkan respon positif darinya,  dia selalu mendukung saya untuk terus menulis puisi.  Sampai pada akhirnya,  iseng-iseng menulis puisi itu menjadi suatu kegemaran.  Saya mulai mencari tau puisi-puisi karya sastrawan besar. Kahlil Gibran adalah manusia pertama yang saya kagumi hasil karyanya,  puisi pertamanya yang saya baca adalah Broken Wings yang saya dapati di buku kumpulan puisi yang dipinjami seorang teman bernama Septi. Bahkan sampai detik ini Kahlil Gibran tak ada habisnya membuat saya jatuh cinta. 
Pernah suatu ketika,  ah maaf tapi untuk moment yang ini saya samar-samar mengingatnya.  Saat itu entah siapa yang meminta saya untuk mengisi mading sekola.  Mungkin,  ka bunga itu karena yang tau saya suka menulis puisi hanya dia.  Dia juga salah satu anggota osis mungkin dia yg menempel puisi saya di mading.  Tapi yang saya ingat,  saya sendiri yang mengetik lembaran-lembaran puisi itu dengan tinta warna ungu. Saya lupa siapa yang memasang karya saya di mading,  tapi sungguh konyol.  Karena di SMPN 18 Bogor itu mading jarang sekali ada yang berpartisipasi.  Jadi alhasil satu mading penuh berisikan puisi dan cerpen saya semua hahaha.  Rasanya menggelitik jika ingat hal itu,  terlalu konyol dan terlalu percaya diri sekali saya kala itu hahahaha
Sampai pernah saya membaca puisi di  pentas seni sekola,  ah itu moment yang sangat amat buruk.  Rasanya muka saya ditampar berkali-kali,  panas sekali karena rasa malu.  Karena saya tahu betul, bahwa penampilan saya saat membaca puisi itu sangat buruuuuuk sekali.  Ah saya malu jika harus mengingatnya. 
Maka dari pengalaman itu saya paham,  bahwa mungkin saya bisa membuat puisi tapi hanya bisa.  Tidak dengan membacanya, apalagi di depan umum. 
Naik ke kelas 2 dan sampai saya lulus Sekolah menengah pertama,  tidak ada hal penting lainnya tentang puisi.  Sampai pada kelas 3 SMA,  salah satu teman yang saat itu entah jabatannya apa,  saya kurang ingat,  tapi namanya Lia. Dia menghubungi dan ingin melihat-lihat puisi hasil karya saya sendiri.  Saat itu saya tidak berfikir kemana-mana,  saya kira dia hanya iseng melihat-lihat.
Wah Tapi ternyata beberapa minggu kemudian ada salah satu teman sekelas saya yang menanyain bahwa ada puisi yang mengisi salah satu lembar halaman Majalah Sekolah namanya MIKOS (majalah informasi kosgoro) , dan disitu tertulis karya saya.  Sontak semua itu membuat bingung,  kok bisa?. Ketika saya lihat ternyata puisi yang berjudul "Aku Rindu" itu menjadi salah satu pilihan untuk diberi kesempatan mengisi Majalah Sekola. Ah rasanya senang,  rasanya mengejutkan.  Ternyata ada yang mengapresiasi karya saya,  ah terimakasih Lia.  
Dan ternyata berkat puisi itu,  saya lebih dikenal oleh adik kelas haha beberapa adik kelas yang mengirim pesan lewat situs Facebook menanyai soal puisi itu.  Salah satu adik kelas yang cukup saya ingat adalah Fizri,  dia sering membahas puisi itu sampai saya hafal namanya sampai saat ini.  
Setelah saya lulus SMA puisi tidak ada lagi di mading atau majalah sekolah,  saya tumpahkan semua di salah satu akun pada situs Twitter,  banyak hal yang saya lalui sampai pada saya di jadikan seorang admin pada salah satu akun official twitter,  dan itu pertama kalinya saya mendapatkan uang dari hasil saya merangkai kata.  Mungkin kamu bingung kenapa dari twitter saya mendapatkan uang,  ah ceritanya panjang haha nanti kapan-kapan saya akan ceritakan soal itu.

Lalu dari perjalanan saya mengenal puisi, maka bagi saya puisi adalah suatu kegemaran yang merupakan sarana untuk saya mengungkapkan sesuatu yang tidak bisa di ceritakan secara terbuka,  baik soal kehidupan maupun tentang perasaan.  
Jujur saja,  saya termasuk spesies yang kurang mahir dalam mengungkapkan sesuatu secara gamblang.  Saya juga sering kali memanipulasi perasaan hahaha
Memanipulasi perasaan disitu,  hmmm maksudnya seperti.  Semisalnya saya ditanya oleh teman bagaimana perasaan saya ketika mendapatkan hadiah dari seseorang yang spesial.  Pasti saya akan menjawab,  "biasa-biasa saja" hahaha dengan laga yang so cuek dan so cantik itu.  Padahal sesungguhnya saya ingin menjerit kegirangan haha 
Saya memang merasa sulit untuk menceritakan apa yang sebenarnya dirasa,  karena menceritakan mengenai perasaan saya lebih dalam lagi akan membuat kerongkongan saya tercekik kehausan. Saya juga belum siap jika pipi memerah terbakar oleh rasa malu.

Dulu saya sering kali menulis buku diary,  bahkan sampai saat ini, tapi untuk sekarang saya lebih hati-hati dalam menulis dan menyimpannya karena selalu saja dibaca colongan oleh kakak,  adik bahkan mama saya sendiri dan sahabat yang sedang main ke kamar pun seringkali tak sengaja atau bahkan disengaja membaca si buku imut itu. Saya tidak marah jika mereka terlanjur membaca,  saya anggap itu adalah kelalaian saya dalam menyimpan rahasia.
Tapiiiiii setelah dewasa ini,  saya punya cara tersendiri dalam merahasiakan suatu cerita atau perasaan.  Masih tetap menulis tapi bedanya bukan menulis diary lagi lebih dari sekedar menulis,  buku itu sudah beralih menjadi buku kumpulan puisi.  Karena saya mampu dan berhak untuk menyimpan suatu cerita dalam sebuah puisi.  Dan pasti hanya saya yang akan mengerti bahasa dan maknanya. 
Karena menurut saya dalam sebuah puisi akan mengandung banyak arti,  bahkan setiap lariknya saja punya banyak makna.  Maka setiap pembaca pasti memiliki persepsinya masing-masing. Yang mengetahui maksud sebenarnya kan hanya penulisnya.  Tidak jarang kok puisi sastrawan besar yang kita anggap berbeda persepsinya,  contohnya seperti puisi karya Chairil Anwar yang berjudul "AKU" . Banyak orang mengira itu soal perasaan dia terhadap kekasihnya,  ada juga yang mengaitkab dengan masalah politik.  Tetapi kenyataannya puisi tersebut adalah ungkapan kekecewaan beliau atas keputusan ayahnya.  
Dari situ saya tau bahwa puisi adalah sebuah rahasia yang hanya orang-orang ajaib yang bisa mencerna. 

Nanti saya akan mencoba membedah puisi dari bait ke bait agar para pembaca lebih bisa memahami fungsi puisi dari pandangan saya. Tetapi tentunya bedah puisi tersebut akan menggunakan puisi karya saya sendiri,  karena saya belum berani dan belum cukup ilmu jika harus membedah puisi karya sastrawan besar seperti Sapardi atau Kahlil Gibran sekalipun. Hihi terimakasi sudah berkenan membaca sampai akhir
Bogor,  jumat 14 April 2017
12.35 WIB

Senin, 03 April 2017

Bersyukur. Semoga disegerakan.

Hari ini seperti biasanya Kota Hujanku selalu hujan.  Senja telah lama pergi,  kira-kira pukul 18.45 WIB saya menyandarkan motor matic yang berwarna hitam itu di depan teras rumah. 
Tentu rumah bercat krem itu adalah rumah saya, ketika pintu dibuka terlihat jelas sosok wanita yang pernah melahirkan saya. Ah biasanya beliau saya sebut "mama". Mencium tangannya ketika pulang atau pergi dari rumah adalah kebiasaan yang hampir tak pernah di lewatkan. 
Seperti biasa,  wanita baik itu selalu menanyai sekiranya saya sudah makan tau belum. 
Sebelum memutuskan untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan ini,  saya berganti pakaian terlebih dahulu,  agar seperti manusia-manusia pada umumnya. 
Ketika saya mulai duduk sembari memagang piring yang berisikan martabak telur dan sosis goreng itu,  mama mulai membuka perbincangan
"formulir S2 pesanan kakak sudah diambil? "
Seketika saya teringat janji saya untuk mengambilkan formulir pendaftaran pascasarjana untuk si kakak, ah mengapa bisa seteledor ini melupakan hal sederhana seperti itu .

"ah,  lupa mah.  Besok saja,  besok saya pergi ke kampus lagi. " jawabku.
"kira-kira berapa lama meneruskan S2? Dua tahun mungkin dia bisa yah,  dia anak yg cerdas" lanjutnya.
"iya mungkin.  Karena dia suka berhitung, karna itu dia cepat menyelesaikan kuliah Ekonominya dulu. Beda dengan saya mah yang jelas-jelas tidak suka berhitung" tegasku karena merasa kalimat mamaku sebelumnya adalah sebuah sindiran karena saya belum menyelesaikan kuliah di Fakultas Ekonomi ini.
"kalau tidak suka berhitung,  kenapa waktu itu mau masuk Fakultas Ekonomi? " tanya mama.
Lalu saya jawab "kan mama yang menyuruhnya. Padahal saat itu saya ingin sekali masuk Sastra Indonesia,  atau menjadi Guru Bahasa Indonesia"
"masa kakakmu saja bisa,  kamu tidak? " lanjutnya.
"saya bisa mah menyelesaikan kuliah di Ekonomi ini.  Tapi hanya sekedar bisa.  Tidak cinta"  semakin saya pertegas.
Sebelum mama melanjutkan bicara,  saya tetep meneruskan dialog. 
"ibaratnya itu seperti mama makan semangkuk bubur dengan diberi kecap.  Memang buburnya masih bisa dimakan,  tetapi tentu mama tidak akan suka.  Seperti itu saya sekarang! "

Mengapa saya ibaratkan semangkuk bubur dengan kecap,  karena notabennya mama saya kurang menyukai kecap. 
Sehabis kalimat terakhir tadi,  mama sayapun tidak dapat mencela kata-kata saya lagi. Seperti tidak ingin membahas persoalan ini lebih lanjut.

Itu pertama kalinya saya mengucapkan apa yang sebenarnya saya rasakan selama perkuliahan ini. Sungguh bukan hal yang mudah untuk mencapai semester akhir di Fakultas Ekonomi ini.  
Selama 3 tahun saya bergelut dengan hal yang tak pernah bahkan tak bisa saya cintai,  tetapi harus terus saya jalani. 
Bayangkan,  kita menjalani hidup di lingkungan yang tidak kita sukai.  
Rasanya kerongkongan seperti tersedak kulit duren,  ingin dimuntahkan sulit.  Apalagi untuk ditelan.
Hanya bisa pasrah mengikuti arah. 

Tetapi suatu ketika,  saya melihat teman-teman lain yang ingin merasakan bangku perkuliahan tetapi terkendala pada masalah materi.  
Saya merasa bersyukur karena masih lebih beruntung dari mereka. 
Maka apapun yang saya jalani kini,  semoga tidak menjadi perjuangan yang tak berarti.
Semoga kita bisa lebih bijak dalam memandang suatu masalah.  
Lalu jangan lupa doakan saya agar segera lulus dari bubur berkecap ini,  eh dari Fakultas Ekonomi ini. Amin

Minggu, 05 Maret 2017

1 Maret ke 24


Selamat ulang tahun untuk saya.
Selamat ulang tahun juga Justin Bieber.  Ah suatu kehormatan bisa merayakan hari kelahiran bersamaan dengan si tampan bieber itu hahahaha
Ya tepatnya 1 maret 2017 , usia saya bertambah tapi umur saya mulai berkurang :'(
Tak terasa sudah 24 tahun saja numpang menghirup oksigen di bumi, ah setahun lagi pasti akan bermunculan pertanyaan pertanyaan tentang jodoh, kapan nikah,  dan bla bla bla blaaaa

Diawali pada jam 12.01 dini hari,  ucapan selamat ulangtahun mulai berdering di ponsel saya.  Dari teman,  sahabat,  dan bahkan mantan kekasih haha manusia-manusia baik itu mulai mengucapkan dan mendoakan via aplikasi chatt,  amin dan terimakasi selalu saya balas dan somoga diaminkan juga oleh malaikat.
Lalu saya mulai tertidur dengan keadaan biasa saja,  seperti malam-malam sebelumnya.. Selalu cantik hahabodoamatyah..
Ketika mata mulai mencari cela cahaya di antara kelopak, ternyata sudah pagi.  Entah sejak kapan prilaku ini mulai menjadi kebiasaan, tapi ketika terbangun dari tidur maka otomatis yang saya cari adalah ponsel haha dan mungkin bukan hanya saya yang seperti itu,  kamu juga pasti demikian. Hanya untuk sekedar melihat jam atau bahkan melihat apakah ada pesan yang menyangkut di ponsel pintar berwarna rosegold yang sedang saya pakai untuk menulis blog ini hihi.  Tentu saja lagi lagi prediksi saya benar, ada beberapa pesan singkat di beberapa aplikasi chatt yang masuk untuk saya pagi itu,  beberapa ucapan dan doa di pagi hari yang amat saya syukuri.

Dan sebenarnya di hari sebelumnya saya telah bersepakat pada diri sendiri,  akan mengasingkan komunikasi dari teman dan sahabat.  Karena saya sedang tidak ingin melakukan apapun apalagi untuk merayakan hari kelahiran.  Bukan karena tidak bersyukur atas umur yang diberi,  tetapi untuk tahun ini,  terasa sangat aneh merayakannya tanpa kehadiran mama,  karena mama sedang menjalani ibadah ke kota suci (semoga ibadahnya lancar mah,  dan sehat selalu. Terimakasi hadiah gelangnya,  suka).
Bahkan saya sampai meminta kepada adik dan kakak saya untuk tidak memberikan kue atau kado dan embel-embelnya seperti tahun-tahun lalu.

Ah entahlah untuk dini ini, bersembunyi dan membatasi komunikasi dengan teman-teman rasanya sangat teramat sulit. Seperti bisa dilacak dimanapun kita berada. Dengan sangat terpaksa saya akhirnya memutuskan untuk pergi ke kampus,  karena ada keperluan yang enggan untuk ditunda.
Dan pada hari itu tujuan saya untuk menghilang sejenak dari permukaan bumi telah gagal.  Saya tetap pada orbitnya,  tetap di permukaan. Rasanya terlalu mencolok,  tidak seperti hari biasanya.
Sebelum sampai kampus, saya sempat mendapat telfon dari laki-laki yang mengaku di utus oleh sebuah ekspedisi untuk mengantar paketan ke rumah saya. Sungguh sangat menyebalkan ketika si adik memberi tahu nama pengirim paket tersebut, rasanya saya ingin cepat-cepat sampai rumah,  ingin meluncur naik awan kintounnya dragonball, atau pintu ajaibnya doraemon pun tak masalah.  Rasa ingin pulang itu sangat besar,  ah tapi kalah besar oleh hujan lebat kala itu.  Terpasunglah saya di kampus dengan menerka-nerka isi paket tersebut, yang bahkan aliran air hujan pun tidak bisa menghapus rasa penasaran saya, terhadap kiriman paket dari "seseorang" yang sedang berada di Yogyakarta itu.

Setelah semua urusan kampus selesai, dan rintik hujan mulai mengecilkan volumenya. Saya sangat merasakan perbedaan sikap mereka (sahabat-sahabat saya) .  Bukan!!!  Bukan seperti anak SMP yang melakukan drama so so cuek agar saya kesal di hari kelahiran saya.  Tetapi mereka justru terlihat semakin konyol dari biasanya haha, mencoba menutupi kepanikannya,  bingung akan beralasan apa untuk mencuri kesempatan agar menjauh dari saya.  Ada yang mengatakan akan membeli alat makeup,  ada juga yang berkata ingin berkencan dengan mantan,  sangking menjiwai perannyanya dia benar-benar memboyong mantannya itu haha saya benar-benar ditinggal sendirian di bangku kayu dekat Kantor Tata Usaha. Beberapa saat kemudian. Untuk menggiring saya pulang ke rumah,  ada yang pura-pura sibuk ingin ngeprint ke rental ah untuk teman saya yang satu itu sangat buruk aktingnya hahaha dia sesekali terlihat sedang berfikir keras, sangat-sangat mencurigakan wkwkwk.  Dan yang paling konyol,  teman saya si keriting yang berpura-pura sakit perut ingin menumpang ke toilet di rumah saya.  Agar maksimal aktingnya,  dia sempat berakting buang angin.  Ah saya rasa itu bukan akting,  memang keahliannya adalah buang angin hahaha

Sesampainya di rumah,  takdir mempertemukan saya dengan si paket yang dibungkus plastik hitam nan seksi itu,   tertera sangat jelas nama pengirimnya. Sungguh keadaan yang sangat-sangat konyol,  rasanya pipi saya terbakar melihat paketan besar itu.  Kota Bogor yang biasanya terasa dingin sehabis hujan,  justru kala itu terasa amat panas bagi saya. Syaraf-syaraf di sekeliling bibir mulai membandel,  mereka saling tarik menarik untuk menyulam senyum di pipi yang overload ini ukurannya. Ah situasi saat itu sangat serbasalah,  ingin tersenyum tetapi tertahan oleh rasa malu yang pasti akan membuat adik-adik saya keheranan.
Dengan mengalahkan kecepatan cahaya,  otak saya mendapatkan rencana terbaik,  yang membuat saya bergegas ke kamar yang berada di lantai dua.  Dan membuka paketan itu disana.

Kemudiaaaaaaaaan
Taraaaaaaaaaaaaaaaa......
Ketika pintu kamar terbuka,  kamar dengan tembok berwarna hijau tosca yang dihiasi lampu-lampu berwarna biru itu telah berubah rupanya.   Di samping gambar putri duyung berukuran cukup besar yang melayang di tembok kamar saya,  telah terpampang jelas tulisan "Happy Birthday" dan langit-langit kamar yang telah diwarnai oleh untaian kertas warna warni.
Ah ternyata itu kelakuan sahabat-sahabat saya yang menyebut diri mereka sendiri sebagai "caabat" , kejutan yang mengejutkan disela-sela jantung berdebar karena paketan yang saya ceritakan tadi.

Seperti ulangtahun manusia normal lainnya,  meniup lilin dan mengucapkan doa doa baik untuk hari kelahiran saya itu.  Akhirnya tiba juga bagian favorit yang ditunggu-tunggu, membuka hadiah !!!
Pertama-tama saya buka hadiah yang berbungkus kertas ungu bergambar princess aurora, eh ternyata ada 3 hadiah yang berbungkus sama.  Seperti biasa, kekonyolan mereka menuntun saya untuk menebak-nebak terlebih dahulu isi hadiah tersebut. Tentu saja tebakkan saya selalu salah haha. 

Senang rasanya ketika bungkusan pertama telah dikuliti,  isinya bubuk kopi dengan wadah yang telah dihias sedemikian rupa,  bernama "Kopi Banda Neira" dengan Rasa Rindunya juga dengan Komposisi dari judul-judul lagu Banda Neira.  Sungguh perpaduan yang selaras,  antara Banda Neira dan kopi.  Dua unsur yang paling saya cintai.


Lalu bungkusan kedua yang saya telanjangi,  berisikan cermin lucu berwarna kuning,  yang ketika dibuka akan terpampang jelas dua puisi terbaik dari Penyair pujaan saya,eyang Sapardi Djoko Damono dengan judul "Aku Ingin" dan tentu saja puisi terindah sepanjang masa "Hujan Bulan Juni".

Bungkusan ketiga yang saya lucuti ternyata berisikan penutup mata untuk tidur,  katanya karena saya selalu insomnia hahaha ah mereka itu,  terbaik!

Daaaaaaaaaaan bungkusan hadiah terakhir yang saya robek adalah paketan yang datang dari "seseorang" yang nan jauh disana.  Dengan jantung yang rasanya hampir copot, saya jadikan plastik paketan itu menjadi berkeping-keping lalu akhirnya keluarlah boneka Teddy Bear lucu berwarna krem yang cukup besar,  sepertinya cukup untuk menutupi sebagian tubuh saya. Haha entah apa tujuannya memberikan boneka besar itu,  agar bisa saya peluk ketika tidur,  atau hanya sebagai simbol bahwa boneka itu sekilas mirip dengan saya hahaha
Kakak saya sendiri telah memberikan kado jauh jauh hari haha, dan si bungsu memberikan dreamcatcher berwarna tosca yang saya gantung di jendela kamar. Semoga penangkal mimpi buruk itu bekerja dengan baik,  karena saya sering kali alay haha sering bermimpi buruk tanpa tahu alasannya. 

Lalu.... 
Hujan mengiringi berlalunya hari membahagiakan itu, dengan susulan ucapan dan doa dari orang-orang baik lainnya.
Pejaman mata yang diiringi doa dan ucap syukur untuk kenikmatan hari itu dan hari-hari lainnya.  
Untuk umur yang diberi.  
Untuk kesempatan menghirup udara pagi hari.
Untuk kehangatan siang yang tiada henti.
Untuk senja yang menanti.  Dan,
Untuk malam yang selalu menemani.
Semoga doa ini kekal abadi,  
semoga mereka berbahagia seperti apa yang saya rasakan.
Tuhan, terimakasi untuk kesempatan hidup ini.
Terimakasi telah menghadirkan mereka di kehidupan nyata ini.  Semua ini sudah lebih dari cukup.
Terimakasih.
Saya bahagia.

Kamis, 09 Februari 2017

Postingan Pertama

Hay dunia maya, jujur saja membuat blog ini adalah keputusan yang cukup besar dalam suatu prinsip hidup saya, serta membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk akhirnya memutuskannya haha lebay. Tapi ya sebenarnya sebelum blog ini ada saya pernah membuat blog serupa, tapi bedanya. Di blog sebelumnya saya hanya menyampaikan info-info hal yang saya minati saja, lagipula di blog itu saya kurang aktif, hanya iseng-iseng karena dulu (3 tahun lalu) hanya ikut-ikutan teman haha. 
Berbeda dengan tujuan blog ini, blog ini saya buat untuk mengungkapkan serta mengekspresikan apa yang menjadi pendapat serta apa respon saya dalam menyikapi suatu permasalahan atau kondisi (lebih baper mungkin yah). 

Jadi bagi saya, persoalan kehidupan adalah hal yang paling privasi, terlalu intim untuk diumbar kesana kemari. Hanya diri sendiri dan orang-orang terdekat saja yang boleh mengetahui. Tapi entah ada apa dengan diri saya yang semakin dewasa ini, justru prinsip tersebut mulai pudar. Saya mengambil keputusan untuk menulis blog ini , bukan untuk membuka aib sendiri ataupun mencari sensasi karena saya bukan artis haha, tapi mungkin karena saya sudah merasa mampu untuk memilah dan memilih apa yang pantas di posting dan mana yang cukup diketahui diri sendiri saja.  Dan mungkin apa yang saya tulis dapat menjadi inspirasi dalam hal berbagi pengalaman hidup yang tidak terlalu spesial ini hehe.

Dan sebenarnya dibaca atau tidaknya , bukan menjadi tolak ukur dalam pembuatan blog ini. Sekedar mengisi waktu malam saja yang terbuang ketika kantuk belum datang. 
Karena sebenarnya dari kecil saya sangat suka menulis Diary, ya walaupun harus menyimpannya ekstra hati-hati karena rentan sekali dibaca colongan oleh adik atau kaka saya, ah bahkan mama saya. Tapi tetap saja saya lebih suka menulis dengan tinta ketimbang harus mengetik. Entah sudah berapa banyak lembar kertas ternodai oleh cerita dan keluh kesah hati saya hahaha  Tetapi tidak ada salahnya keluar dari zona nyaman kan, oh iya banyak juga yang tanya kenapa saya memilih menulis blog di blogger,  bukan di tumblr atau wattpad.  Seperti yang saya bilang diatas,  dibaca atau tidaknya tulisan ini tidak pernah menjadi tolak ukut bagi saya.  Seperti yang kita tahu,  jika tumblr punya sarana following dan followers.  Dan wattpad adalah situs yang lebih ke arah novel dan menampilkan viewers kita.. Jadi ya begitulah latarbelakang terbentuknya blog yang tidak terlalu penting ini. hehe