Senin, 03 April 2017

Bersyukur. Semoga disegerakan.

Hari ini seperti biasanya Kota Hujanku selalu hujan.  Senja telah lama pergi,  kira-kira pukul 18.45 WIB saya menyandarkan motor matic yang berwarna hitam itu di depan teras rumah. 
Tentu rumah bercat krem itu adalah rumah saya, ketika pintu dibuka terlihat jelas sosok wanita yang pernah melahirkan saya. Ah biasanya beliau saya sebut "mama". Mencium tangannya ketika pulang atau pergi dari rumah adalah kebiasaan yang hampir tak pernah di lewatkan. 
Seperti biasa,  wanita baik itu selalu menanyai sekiranya saya sudah makan tau belum. 
Sebelum memutuskan untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan ini,  saya berganti pakaian terlebih dahulu,  agar seperti manusia-manusia pada umumnya. 
Ketika saya mulai duduk sembari memagang piring yang berisikan martabak telur dan sosis goreng itu,  mama mulai membuka perbincangan
"formulir S2 pesanan kakak sudah diambil? "
Seketika saya teringat janji saya untuk mengambilkan formulir pendaftaran pascasarjana untuk si kakak, ah mengapa bisa seteledor ini melupakan hal sederhana seperti itu .

"ah,  lupa mah.  Besok saja,  besok saya pergi ke kampus lagi. " jawabku.
"kira-kira berapa lama meneruskan S2? Dua tahun mungkin dia bisa yah,  dia anak yg cerdas" lanjutnya.
"iya mungkin.  Karena dia suka berhitung, karna itu dia cepat menyelesaikan kuliah Ekonominya dulu. Beda dengan saya mah yang jelas-jelas tidak suka berhitung" tegasku karena merasa kalimat mamaku sebelumnya adalah sebuah sindiran karena saya belum menyelesaikan kuliah di Fakultas Ekonomi ini.
"kalau tidak suka berhitung,  kenapa waktu itu mau masuk Fakultas Ekonomi? " tanya mama.
Lalu saya jawab "kan mama yang menyuruhnya. Padahal saat itu saya ingin sekali masuk Sastra Indonesia,  atau menjadi Guru Bahasa Indonesia"
"masa kakakmu saja bisa,  kamu tidak? " lanjutnya.
"saya bisa mah menyelesaikan kuliah di Ekonomi ini.  Tapi hanya sekedar bisa.  Tidak cinta"  semakin saya pertegas.
Sebelum mama melanjutkan bicara,  saya tetep meneruskan dialog. 
"ibaratnya itu seperti mama makan semangkuk bubur dengan diberi kecap.  Memang buburnya masih bisa dimakan,  tetapi tentu mama tidak akan suka.  Seperti itu saya sekarang! "

Mengapa saya ibaratkan semangkuk bubur dengan kecap,  karena notabennya mama saya kurang menyukai kecap. 
Sehabis kalimat terakhir tadi,  mama sayapun tidak dapat mencela kata-kata saya lagi. Seperti tidak ingin membahas persoalan ini lebih lanjut.

Itu pertama kalinya saya mengucapkan apa yang sebenarnya saya rasakan selama perkuliahan ini. Sungguh bukan hal yang mudah untuk mencapai semester akhir di Fakultas Ekonomi ini.  
Selama 3 tahun saya bergelut dengan hal yang tak pernah bahkan tak bisa saya cintai,  tetapi harus terus saya jalani. 
Bayangkan,  kita menjalani hidup di lingkungan yang tidak kita sukai.  
Rasanya kerongkongan seperti tersedak kulit duren,  ingin dimuntahkan sulit.  Apalagi untuk ditelan.
Hanya bisa pasrah mengikuti arah. 

Tetapi suatu ketika,  saya melihat teman-teman lain yang ingin merasakan bangku perkuliahan tetapi terkendala pada masalah materi.  
Saya merasa bersyukur karena masih lebih beruntung dari mereka. 
Maka apapun yang saya jalani kini,  semoga tidak menjadi perjuangan yang tak berarti.
Semoga kita bisa lebih bijak dalam memandang suatu masalah.  
Lalu jangan lupa doakan saya agar segera lulus dari bubur berkecap ini,  eh dari Fakultas Ekonomi ini. Amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar