Kamis, 13 April 2017

Puisi bagi saya adalah...

Puisi adalah....
Eeeets tenang saja saya gak akan copas devinisi puisi dari google atau wikipedia ko hahaha
Karena seperti dalam postingan pertama saya,  blog ini akan jadi sarana pendapat atau opini saya mengenai sesuatu hal. 
Termasuk tentang puisi!

Jadi awal bagaimana saya menyukai puisi itu,  kira-kira sejak SMP.  Pada tahun 2006 ponsel merupakan barang yang cukup sulit untuk dimiliki.  Jadi biasanya saya memakai sarana surat menyurat dan korban pertama yang saya cekoki puisi adalah seorang kaka kelas. Tenang,  dia seorang anak perempuan ko saat itu.  Kita memang dekat,  selayaknya adik dan kakak. Namanya saja Bunga haha surat-surat itu hanya ajang untuk kita berdiskusi,  entah soal keluarga ataupun persoalaan remaja lainnya.  
Karena terlalu jenuh dengan isi surat yang begitu-begitu saja,  jadi saya memutuskan untuk mencoba menulis puisi.  Ah ternyata mendapatkan respon positif darinya,  dia selalu mendukung saya untuk terus menulis puisi.  Sampai pada akhirnya,  iseng-iseng menulis puisi itu menjadi suatu kegemaran.  Saya mulai mencari tau puisi-puisi karya sastrawan besar. Kahlil Gibran adalah manusia pertama yang saya kagumi hasil karyanya,  puisi pertamanya yang saya baca adalah Broken Wings yang saya dapati di buku kumpulan puisi yang dipinjami seorang teman bernama Septi. Bahkan sampai detik ini Kahlil Gibran tak ada habisnya membuat saya jatuh cinta. 
Pernah suatu ketika,  ah maaf tapi untuk moment yang ini saya samar-samar mengingatnya.  Saat itu entah siapa yang meminta saya untuk mengisi mading sekola.  Mungkin,  ka bunga itu karena yang tau saya suka menulis puisi hanya dia.  Dia juga salah satu anggota osis mungkin dia yg menempel puisi saya di mading.  Tapi yang saya ingat,  saya sendiri yang mengetik lembaran-lembaran puisi itu dengan tinta warna ungu. Saya lupa siapa yang memasang karya saya di mading,  tapi sungguh konyol.  Karena di SMPN 18 Bogor itu mading jarang sekali ada yang berpartisipasi.  Jadi alhasil satu mading penuh berisikan puisi dan cerpen saya semua hahaha.  Rasanya menggelitik jika ingat hal itu,  terlalu konyol dan terlalu percaya diri sekali saya kala itu hahahaha
Sampai pernah saya membaca puisi di  pentas seni sekola,  ah itu moment yang sangat amat buruk.  Rasanya muka saya ditampar berkali-kali,  panas sekali karena rasa malu.  Karena saya tahu betul, bahwa penampilan saya saat membaca puisi itu sangat buruuuuuk sekali.  Ah saya malu jika harus mengingatnya. 
Maka dari pengalaman itu saya paham,  bahwa mungkin saya bisa membuat puisi tapi hanya bisa.  Tidak dengan membacanya, apalagi di depan umum. 
Naik ke kelas 2 dan sampai saya lulus Sekolah menengah pertama,  tidak ada hal penting lainnya tentang puisi.  Sampai pada kelas 3 SMA,  salah satu teman yang saat itu entah jabatannya apa,  saya kurang ingat,  tapi namanya Lia. Dia menghubungi dan ingin melihat-lihat puisi hasil karya saya sendiri.  Saat itu saya tidak berfikir kemana-mana,  saya kira dia hanya iseng melihat-lihat.
Wah Tapi ternyata beberapa minggu kemudian ada salah satu teman sekelas saya yang menanyain bahwa ada puisi yang mengisi salah satu lembar halaman Majalah Sekolah namanya MIKOS (majalah informasi kosgoro) , dan disitu tertulis karya saya.  Sontak semua itu membuat bingung,  kok bisa?. Ketika saya lihat ternyata puisi yang berjudul "Aku Rindu" itu menjadi salah satu pilihan untuk diberi kesempatan mengisi Majalah Sekola. Ah rasanya senang,  rasanya mengejutkan.  Ternyata ada yang mengapresiasi karya saya,  ah terimakasih Lia.  
Dan ternyata berkat puisi itu,  saya lebih dikenal oleh adik kelas haha beberapa adik kelas yang mengirim pesan lewat situs Facebook menanyai soal puisi itu.  Salah satu adik kelas yang cukup saya ingat adalah Fizri,  dia sering membahas puisi itu sampai saya hafal namanya sampai saat ini.  
Setelah saya lulus SMA puisi tidak ada lagi di mading atau majalah sekolah,  saya tumpahkan semua di salah satu akun pada situs Twitter,  banyak hal yang saya lalui sampai pada saya di jadikan seorang admin pada salah satu akun official twitter,  dan itu pertama kalinya saya mendapatkan uang dari hasil saya merangkai kata.  Mungkin kamu bingung kenapa dari twitter saya mendapatkan uang,  ah ceritanya panjang haha nanti kapan-kapan saya akan ceritakan soal itu.

Lalu dari perjalanan saya mengenal puisi, maka bagi saya puisi adalah suatu kegemaran yang merupakan sarana untuk saya mengungkapkan sesuatu yang tidak bisa di ceritakan secara terbuka,  baik soal kehidupan maupun tentang perasaan.  
Jujur saja,  saya termasuk spesies yang kurang mahir dalam mengungkapkan sesuatu secara gamblang.  Saya juga sering kali memanipulasi perasaan hahaha
Memanipulasi perasaan disitu,  hmmm maksudnya seperti.  Semisalnya saya ditanya oleh teman bagaimana perasaan saya ketika mendapatkan hadiah dari seseorang yang spesial.  Pasti saya akan menjawab,  "biasa-biasa saja" hahaha dengan laga yang so cuek dan so cantik itu.  Padahal sesungguhnya saya ingin menjerit kegirangan haha 
Saya memang merasa sulit untuk menceritakan apa yang sebenarnya dirasa,  karena menceritakan mengenai perasaan saya lebih dalam lagi akan membuat kerongkongan saya tercekik kehausan. Saya juga belum siap jika pipi memerah terbakar oleh rasa malu.

Dulu saya sering kali menulis buku diary,  bahkan sampai saat ini, tapi untuk sekarang saya lebih hati-hati dalam menulis dan menyimpannya karena selalu saja dibaca colongan oleh kakak,  adik bahkan mama saya sendiri dan sahabat yang sedang main ke kamar pun seringkali tak sengaja atau bahkan disengaja membaca si buku imut itu. Saya tidak marah jika mereka terlanjur membaca,  saya anggap itu adalah kelalaian saya dalam menyimpan rahasia.
Tapiiiiii setelah dewasa ini,  saya punya cara tersendiri dalam merahasiakan suatu cerita atau perasaan.  Masih tetap menulis tapi bedanya bukan menulis diary lagi lebih dari sekedar menulis,  buku itu sudah beralih menjadi buku kumpulan puisi.  Karena saya mampu dan berhak untuk menyimpan suatu cerita dalam sebuah puisi.  Dan pasti hanya saya yang akan mengerti bahasa dan maknanya. 
Karena menurut saya dalam sebuah puisi akan mengandung banyak arti,  bahkan setiap lariknya saja punya banyak makna.  Maka setiap pembaca pasti memiliki persepsinya masing-masing. Yang mengetahui maksud sebenarnya kan hanya penulisnya.  Tidak jarang kok puisi sastrawan besar yang kita anggap berbeda persepsinya,  contohnya seperti puisi karya Chairil Anwar yang berjudul "AKU" . Banyak orang mengira itu soal perasaan dia terhadap kekasihnya,  ada juga yang mengaitkab dengan masalah politik.  Tetapi kenyataannya puisi tersebut adalah ungkapan kekecewaan beliau atas keputusan ayahnya.  
Dari situ saya tau bahwa puisi adalah sebuah rahasia yang hanya orang-orang ajaib yang bisa mencerna. 

Nanti saya akan mencoba membedah puisi dari bait ke bait agar para pembaca lebih bisa memahami fungsi puisi dari pandangan saya. Tetapi tentunya bedah puisi tersebut akan menggunakan puisi karya saya sendiri,  karena saya belum berani dan belum cukup ilmu jika harus membedah puisi karya sastrawan besar seperti Sapardi atau Kahlil Gibran sekalipun. Hihi terimakasi sudah berkenan membaca sampai akhir
Bogor,  jumat 14 April 2017
12.35 WIB

Senin, 03 April 2017

Bersyukur. Semoga disegerakan.

Hari ini seperti biasanya Kota Hujanku selalu hujan.  Senja telah lama pergi,  kira-kira pukul 18.45 WIB saya menyandarkan motor matic yang berwarna hitam itu di depan teras rumah. 
Tentu rumah bercat krem itu adalah rumah saya, ketika pintu dibuka terlihat jelas sosok wanita yang pernah melahirkan saya. Ah biasanya beliau saya sebut "mama". Mencium tangannya ketika pulang atau pergi dari rumah adalah kebiasaan yang hampir tak pernah di lewatkan. 
Seperti biasa,  wanita baik itu selalu menanyai sekiranya saya sudah makan tau belum. 
Sebelum memutuskan untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan ini,  saya berganti pakaian terlebih dahulu,  agar seperti manusia-manusia pada umumnya. 
Ketika saya mulai duduk sembari memagang piring yang berisikan martabak telur dan sosis goreng itu,  mama mulai membuka perbincangan
"formulir S2 pesanan kakak sudah diambil? "
Seketika saya teringat janji saya untuk mengambilkan formulir pendaftaran pascasarjana untuk si kakak, ah mengapa bisa seteledor ini melupakan hal sederhana seperti itu .

"ah,  lupa mah.  Besok saja,  besok saya pergi ke kampus lagi. " jawabku.
"kira-kira berapa lama meneruskan S2? Dua tahun mungkin dia bisa yah,  dia anak yg cerdas" lanjutnya.
"iya mungkin.  Karena dia suka berhitung, karna itu dia cepat menyelesaikan kuliah Ekonominya dulu. Beda dengan saya mah yang jelas-jelas tidak suka berhitung" tegasku karena merasa kalimat mamaku sebelumnya adalah sebuah sindiran karena saya belum menyelesaikan kuliah di Fakultas Ekonomi ini.
"kalau tidak suka berhitung,  kenapa waktu itu mau masuk Fakultas Ekonomi? " tanya mama.
Lalu saya jawab "kan mama yang menyuruhnya. Padahal saat itu saya ingin sekali masuk Sastra Indonesia,  atau menjadi Guru Bahasa Indonesia"
"masa kakakmu saja bisa,  kamu tidak? " lanjutnya.
"saya bisa mah menyelesaikan kuliah di Ekonomi ini.  Tapi hanya sekedar bisa.  Tidak cinta"  semakin saya pertegas.
Sebelum mama melanjutkan bicara,  saya tetep meneruskan dialog. 
"ibaratnya itu seperti mama makan semangkuk bubur dengan diberi kecap.  Memang buburnya masih bisa dimakan,  tetapi tentu mama tidak akan suka.  Seperti itu saya sekarang! "

Mengapa saya ibaratkan semangkuk bubur dengan kecap,  karena notabennya mama saya kurang menyukai kecap. 
Sehabis kalimat terakhir tadi,  mama sayapun tidak dapat mencela kata-kata saya lagi. Seperti tidak ingin membahas persoalan ini lebih lanjut.

Itu pertama kalinya saya mengucapkan apa yang sebenarnya saya rasakan selama perkuliahan ini. Sungguh bukan hal yang mudah untuk mencapai semester akhir di Fakultas Ekonomi ini.  
Selama 3 tahun saya bergelut dengan hal yang tak pernah bahkan tak bisa saya cintai,  tetapi harus terus saya jalani. 
Bayangkan,  kita menjalani hidup di lingkungan yang tidak kita sukai.  
Rasanya kerongkongan seperti tersedak kulit duren,  ingin dimuntahkan sulit.  Apalagi untuk ditelan.
Hanya bisa pasrah mengikuti arah. 

Tetapi suatu ketika,  saya melihat teman-teman lain yang ingin merasakan bangku perkuliahan tetapi terkendala pada masalah materi.  
Saya merasa bersyukur karena masih lebih beruntung dari mereka. 
Maka apapun yang saya jalani kini,  semoga tidak menjadi perjuangan yang tak berarti.
Semoga kita bisa lebih bijak dalam memandang suatu masalah.  
Lalu jangan lupa doakan saya agar segera lulus dari bubur berkecap ini,  eh dari Fakultas Ekonomi ini. Amin