Cinta merupakan sepaket rasa yang
membalut berbagai ekspresi hati yang tengah merajalela, mengalahkan bentuk lain
dari kasih sayang. Membentuk lekuk senyuman yang terkadang menyulitkan kegilaan
tidak masuk akal, kebutaannya dapat mengikis habis benteng harga diri yang dijunjung
tinggi, menyapu debu kehidupan insan
yang kesepian. Hadirnya memancarkan satu sinar terang di tengah badai, mengubah
7 lapisan warna pelangi menjadi satu warna yaitu “merah muda”. seharusnya, hanya merah
muda warna yang berserakan di cawan hatiku. Tapi...
Tapi
tidak dengan perasaanku saat ini, cinta tak seindah itu jika bersemi di waktu
yang tak tepat, mendarat tepat di hutan terlarang yang di tinggal pergi para
pendaki kebahagiaan, yang tersisa hanya kenangan pagi yang menyisakan embun
diatas bebatuan, hanya bangkai daun kering berserakan tak bernyawa tanpa
tangkai, dan hanya sekedar kesunyian yang ditemani tetesan hujan semalam. Pendaki
kebahagiaan itu pergi tanpa tau isi hatiku, melangkah dengan penuh kecewa karena
ketidak pekaanku yang enggan menoleh kebelakang, menuruni satu-persatu bukit harapan
dan mencoba menghapus jejaknya tanpa berniat untuk kembali. Aku tahu hatinya
hancur, bagai remukan kayu tua yang
kehilangan nyawa, aku tahu hatinya terluka, bagai goresan pisau terkena
tepat pada nadinya. Tapi bagaimana ia bisa menuruni bukit tanpa naik kepuncak
terlebih dahulu.
Namaya Runda, ia adalah sang
pendaki kebahagiaan itu, ia sosok lelaki sederhana yang mempunya seringai
senyum mematikan, dengan kemampuannya menggoreskan tinta-tinta kenyamanan pada
hatiku. Aku sendiri adalah Dhety seorang wanita yang sangat beruntung mempunyai
sahabat seperti Runda. Kami bersahabat
sejak SMA, entah bagaimana aku bisa mengenalnya akupun tidak begitu ingat, yang
aku ingat ia adalah sosok yang selalu ada dalam hujan air mataku atau hangatnya
matahari bahagiaku. Kita berbeda sekolah bahkan berbeda usia, tapi apapun
perbedaan itu membuat kami semakin erat. Saat itu ia lebih dulu lulus sekolah
dan memutuskan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi di kota Semarang , setahun
kemudian aku yang memutuskan untuk menetap sementara di kota Jakarta. Dengan
terpisah jarak dan waktu kami yang semakin menjauh tak pernah melemahkan komunikasi,
walau begitu masing-masing kami telah memiliki kekasih dan aku rasa
persahabatan yang sudah terjalin lama ini tidak mengganggu aktivitas dalam membahagiakan
pasangan kami. Runda adalah sosok lebih dari sekedar sahabat, ada perasaan
nyaman jika dekatnya, ada perasaan aman ketika bersamanya dan perasaan itu menurutku
perasaan wajar terhadap seorang sahabat. Ia adalah salah satu inspirasiku,
kemandiriannya telah membuatku kagum, kagum yang sewajarnya...
Suatu
ketika kami bertemu di suatu kesedihan yang sama , kesedihan akan runtuhnya
kisah cinta kami pada masing-masing pasangan. Sesaknya jiwa, hancurnya harapan
pada sosok seorang kekasih, aku tuangkan semua pada Runda begitu juga dia. Ia
senantiasa mendengarkan, menasehati bahkan menyemangatiku, langit malam selalu
menjadi saksi senda gurau, jerit dan tangis yang terselip dalam perbincanganku
dengannya via telfon.
Pada kesempatan yang diberi oleh takdir, Runda menyempatkan
mampir ke Jakarta untuk menemui sahabatnya ini. Aku menjemputnya di Stasiun
Manggarai.
“makin
hitam aja kamu Run..” sapaku ketika bertemu dengannya
“kamu
juga makin gembil aja..hahaha” candanya
Entah
mengapa ada rasa begitu bahagia melihat sosok sahabatku yang jail itu, setelah
sekian lama tidak bertemu ia tidak banyak berubah. Masih dengan postur tubuhnya
yang tinggi, rambut hitam yang agak keriting, dan kulit yang sekarang mulai gelap
seperti gula jawa. Hari itu kami menghabiskan waktu mengelilingi ibu kota
hingga larut malam, setelahnya ia memutuskan menginap di rumah tantenya lalu
dua hari kemudian ia mengabarkan akan
kembali ke kota semula. Aku mengantarnya ke stasiun hingga keretanya datang, ada
perasaan sedih dalam benakku saat melepas kepergiannya, tapi ada getar
kebahagiaan dibaliknya.
Sesampainya
disana ia mengabariku, dan kami menjalani hidup seperti biasanya, sewajarnya.
Kehadiran Runda membuatku kembali bersemangat, membuatku bertahan pada aliran
air yang deras, dan perlahan menepi lalu melupakan masalalu, melupakan mantan
kekasihku. Aku sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti dia yang dapat
menyayangiku sebagaimana lelaki menyayangi kekasihnya, menjagaku sebagaimana
kakak laki-laki menjaga adik perempuan kecilnya.
Tetapi malapetaka itu datang ,
ketika aku bersandar dalam kenyamanan ada petir yang merusak telingaku,
bidikanku tepat saat ini, hatiku mengalirkan darah kekecewaan, mataku kosong
bagai ruangan yang menghasilkan gemma, otakku mengeras seperti tergganjal batu
besar. Malam itu waktu telah
mengkhianati persahabatan kami...
“aku
ingin membicarakan sesuatu yang cukup penting.” Kata Runda
“sesuatu
apa? Tidak biasanya kamu serius seperti ini ?” sahutku
“sebenarnya
selama ini aku menyukaimu, aku telah memendam perasaan ini sejak lama. Maaf...”
ucapnya
Jantungku terasa tak lagi berdetak,
lidahku membeku seketika, pandanganku kosong. Rasanya aku ingin di tembak mati
saja, kalimat terakhir yang diucapkan Runda adalah malapetaka bagi
persahabatan kami, kalimat itu adalah kalimat bukan pertanyaan yang tak sempat
memiliki jawaban. Dengan keadaan setengah sadar tak kuduga aku menekan tombol
berhenti pada ponselku, hatiku hening, tetapi otakku dipenuhi banyak pertanyaan
“mengapa bisa?”. Tak ku sangka malam itu adalah malam terakhir aku mendengar
suaranya, malam itu adalah malam yang telah merenggut kebahagiaan persahabatan
kami, malam yang menghempaskan kenyamanan hati kami.
Keesokan
harinya, entah iblis apa yang
merasukiku. Meninggikan keangkuhanku karena untuk mengabari sahabatku seperti
biasanya saja aku tak mampu. Entah apa yang Runda rasakan setelah kejadian
semalam, rasa kecewa? Terluka ? atau apa? Tapi sungguh aku tidak bisa menerima
perasaan yang disebut “cinta” itu meruntuhkan tiang kokoh persahabatan kami
yang telah dibangun sejak lama. Bahkan aku sendiri tidak mengerti mengapa ia bisa merasakan perasaan itu terhadap sahabatnya sendiri?
Hari berlalu tanpa ada kabar
darinya, kami bagai musuh yang telah mendendam lama. Tanpa menyapa, tanpa ingin
mengingat, bahkan tanpa mengakui pernah saling mengenal. Suatu ketika jauh dari
hari setelah kejadian itu, mungkin kira-kira hampir seribu purnama. Lalu aku mendapat kabar bahwa Runda telah memiliki
kekasih baru, hatiku tercabik, rasanya semua saraf ditubuhku tak berfungsi, otakku
tak dapat berfikir lagi. Milikku diambil orang. Persahabatanku hancur, hatiku
rapuh, bahkan hidupku abu-abu.
SIALAN!!!!!! Keadaan
berbalik kepadaku, aku mulai menyadari bahwa ada perasaan yang disebut
“cinta” masuk dalam diriku terhadap Runda, baru aku sadari “aku mencintainya”
. Semua telah terlambat, ia sudah milik orang lain dan mungkin saat ini aku
hanyalah sampah masalalu baginya. Aku murka pada diriku sendiri, mengapa baru
aku sadari ia begitu berarti. Tapi setelah ia pergi.
Musim
berganti, aku menjalani hariku tanpa Runda. Rasanya sepi tapi aku mulai
terbiasa berjalan dengan menutup mata dalam kesepian itu. Saat ini aku tak lagi
mendengar kabarnya, kami bagai matahari dan bulan yang tak pernah menyapa
bahkan tak pernah bertemu. Takdir menjauhkan kami, keadaan membatasi kisah
kami. Suatu ketika aku sangat merindukannya, benar-benar merindu seperti kaktus
yang merindu hujan di padang pasir. Tapi bulan sesekali bertemu matahari dalam
suatu gerhana. Ku buang semua keangkuhanku, ku hempaskaan harga diriku, aku
memberanikan diri mencari keberadaannya, dan menanyai keadaannya. Niat baikku
di sambutnya dengan baik pula.
“Runda ?” tanyaku di salah satu jejaring sosial
“eh
iya dhet? Kemana saja kamu?” jawabnya
“kamu
yang kemana saja ?” sahutku
“ponselku
hilanng jadi tidak bisa menghubungimu” jelasnya
Saat
ini ketika aku menulis cerita ini, perasaan yang menghancurkan persahabatan
kami masih kokoh tumbuh dalam hatiku, jawaban atas kalimat bukan pertanyaan itu
masih tersimpan rapih dalam benakku, aku masih mencintainya. Mencintai sahabatku
yang mungkin sudah berhenti menghadirkan aku dihidupnya, dan entah sampai kapan
aku menyimpannya. Waktu hanyalah waktu, masalalu sudah berlalu. Walaupun kami
telah menjalin komunikasi kembali tetapi tetap saja aku merasa ada yang
berbeda, seperti ada benteng yang membatasi kami, tiang persahabatan kami
benar-benar telah runtuh, aku bukan siapa-siapa lagi baginya. Sebegitu
berdosakah aku tak menjawab kalimat bukan pertanyaan itu ? sekecewa itukah ia
padaku ? tidakah ia mau mendaki lagi
pada bukit harapan di hatiku? Kini aku telah kehilangan...
Dear Runda...
jangan pernah kamu
lupakan bahwa kita pernah berjalan bersama
Jangan pernah kamu
lupakan bahwa kita..
pernah menjadi sepasang sayap yang memeluk
langit...
Dan pada
akhirnya kita adalah bahagia yang saling melukai
Kita adalah
bunga yang bermekar pada musimnya
Kita hanyalah
setia yang telah tiada
Dan kita adalah
rindu yang tertunda
Kini aku telah
kehilangan...
