Selasa, 09 Mei 2017

Bahagia Yang Saling Melukai #part 1



Cinta merupakan sepaket rasa yang membalut berbagai ekspresi hati yang tengah merajalela, mengalahkan bentuk lain dari kasih sayang. Membentuk lekuk senyuman yang terkadang menyulitkan kegilaan tidak masuk akal, kebutaannya dapat mengikis habis benteng harga diri yang dijunjung tinggi, menyapu  debu kehidupan insan yang kesepian. Hadirnya memancarkan satu sinar terang di tengah badai, mengubah 7 lapisan warna pelangi menjadi satu warna yaitu “merah muda”. seharusnya, hanya merah muda warna yang berserakan di cawan hatiku. Tapi...
Tapi tidak dengan perasaanku saat ini, cinta tak seindah itu jika bersemi di waktu yang tak tepat, mendarat tepat di hutan terlarang yang di tinggal pergi para pendaki kebahagiaan, yang tersisa hanya kenangan pagi yang menyisakan embun diatas bebatuan, hanya bangkai daun kering berserakan tak bernyawa tanpa tangkai, dan hanya sekedar kesunyian yang ditemani tetesan hujan semalam. Pendaki kebahagiaan itu pergi tanpa tau isi hatiku, melangkah dengan penuh kecewa karena ketidak pekaanku yang enggan menoleh kebelakang, menuruni satu-persatu bukit harapan dan mencoba menghapus jejaknya tanpa berniat untuk kembali. Aku tahu hatinya hancur, bagai remukan kayu tua yang  kehilangan nyawa, aku tahu hatinya terluka, bagai goresan pisau terkena tepat pada nadinya. Tapi bagaimana ia bisa menuruni bukit tanpa naik kepuncak terlebih dahulu.
            Namaya Runda, ia adalah sang pendaki kebahagiaan itu, ia sosok lelaki sederhana yang mempunya seringai senyum mematikan, dengan kemampuannya menggoreskan tinta-tinta kenyamanan pada hatiku. Aku sendiri adalah Dhety seorang wanita yang sangat beruntung mempunyai sahabat seperti Runda. Kami bersahabat sejak SMA, entah bagaimana aku bisa mengenalnya akupun tidak begitu ingat, yang aku ingat ia adalah sosok yang selalu ada dalam hujan air mataku atau hangatnya matahari bahagiaku. Kita berbeda sekolah bahkan berbeda usia, tapi apapun perbedaan itu membuat kami semakin erat. Saat itu ia lebih dulu lulus sekolah dan memutuskan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi di kota Semarang , setahun kemudian aku yang memutuskan untuk menetap sementara di kota Jakarta. Dengan terpisah jarak dan waktu kami yang semakin menjauh tak pernah melemahkan komunikasi, walau begitu masing-masing kami telah memiliki kekasih dan aku rasa persahabatan yang sudah terjalin lama ini tidak mengganggu aktivitas dalam membahagiakan pasangan kami. Runda adalah sosok lebih dari sekedar sahabat, ada perasaan nyaman jika dekatnya, ada perasaan aman ketika bersamanya dan perasaan itu menurutku perasaan wajar terhadap seorang sahabat. Ia adalah salah satu inspirasiku, kemandiriannya telah membuatku kagum, kagum yang sewajarnya...
Suatu ketika kami bertemu di suatu kesedihan yang sama , kesedihan akan runtuhnya kisah cinta kami pada masing-masing pasangan. Sesaknya jiwa, hancurnya harapan pada sosok seorang kekasih, aku tuangkan semua pada Runda begitu juga dia. Ia senantiasa mendengarkan, menasehati bahkan menyemangatiku, langit malam selalu menjadi saksi senda gurau, jerit dan tangis yang terselip dalam perbincanganku dengannya via telfon.
            Pada kesempatan yang diberi oleh takdir, Runda menyempatkan mampir ke Jakarta untuk menemui sahabatnya ini. Aku menjemputnya di Stasiun Manggarai.
“makin hitam aja kamu Run..” sapaku ketika bertemu dengannya
“kamu juga  makin gembil aja..hahaha”  candanya
Entah mengapa ada rasa begitu bahagia melihat sosok sahabatku yang jail itu, setelah sekian lama tidak bertemu ia tidak banyak berubah. Masih dengan postur tubuhnya yang tinggi, rambut hitam yang agak keriting, dan kulit yang sekarang mulai gelap seperti gula jawa. Hari itu kami menghabiskan waktu mengelilingi ibu kota hingga larut malam, setelahnya ia memutuskan menginap di rumah tantenya lalu dua hari kemudian  ia mengabarkan akan kembali ke kota semula. Aku mengantarnya ke stasiun hingga keretanya datang, ada perasaan sedih dalam benakku saat melepas kepergiannya, tapi ada getar kebahagiaan dibaliknya.
Sesampainya disana ia mengabariku, dan kami menjalani hidup seperti biasanya, sewajarnya. Kehadiran Runda membuatku kembali bersemangat, membuatku bertahan pada aliran air yang deras, dan perlahan menepi lalu melupakan masalalu, melupakan mantan kekasihku. Aku sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti dia yang dapat menyayangiku sebagaimana lelaki menyayangi kekasihnya, menjagaku sebagaimana kakak laki-laki menjaga adik perempuan kecilnya.
            Tetapi malapetaka itu datang , ketika aku bersandar dalam kenyamanan ada petir yang merusak telingaku, bidikanku tepat saat ini, hatiku mengalirkan darah kekecewaan, mataku kosong bagai ruangan yang menghasilkan gemma, otakku mengeras seperti tergganjal batu besar. Malam itu  waktu telah mengkhianati persahabatan kami...
“aku ingin membicarakan sesuatu yang cukup penting.” Kata Runda
“sesuatu apa? Tidak biasanya kamu serius seperti ini  ?” sahutku
“sebenarnya selama ini aku menyukaimu, aku telah memendam perasaan ini sejak lama. Maaf...” ucapnya
            Jantungku terasa tak lagi berdetak, lidahku membeku seketika, pandanganku kosong. Rasanya aku ingin di tembak mati saja, kalimat terakhir yang diucapkan Runda adalah malapetaka bagi persahabatan kami, kalimat itu adalah kalimat bukan pertanyaan yang tak sempat memiliki jawaban. Dengan keadaan setengah sadar tak kuduga aku menekan tombol berhenti pada ponselku, hatiku hening, tetapi otakku dipenuhi banyak pertanyaan “mengapa bisa?”. Tak ku sangka malam itu adalah malam terakhir aku mendengar suaranya, malam itu adalah malam yang telah merenggut kebahagiaan persahabatan kami, malam yang menghempaskan kenyamanan hati kami.
Keesokan harinya,  entah iblis apa yang merasukiku. Meninggikan keangkuhanku karena untuk mengabari sahabatku seperti biasanya saja aku tak mampu. Entah apa yang Runda rasakan setelah kejadian semalam, rasa kecewa? Terluka ? atau apa? Tapi sungguh aku tidak bisa menerima perasaan yang disebut “cinta” itu meruntuhkan tiang kokoh persahabatan kami yang telah dibangun sejak lama. Bahkan aku sendiri tidak mengerti mengapa ia bisa merasakan perasaan itu terhadap sahabatnya sendiri?
            Hari berlalu tanpa ada kabar darinya, kami bagai musuh yang telah mendendam lama. Tanpa menyapa, tanpa ingin mengingat, bahkan tanpa mengakui pernah saling mengenal. Suatu ketika jauh dari hari setelah kejadian itu, mungkin kira-kira hampir seribu purnama. Lalu aku mendapat kabar bahwa Runda telah memiliki kekasih baru, hatiku tercabik, rasanya semua saraf ditubuhku tak berfungsi, otakku tak dapat berfikir lagi. Milikku diambil orang. Persahabatanku hancur, hatiku rapuh, bahkan hidupku abu-abu.

SIALAN!!!!!! Keadaan berbalik kepadaku, aku mulai menyadari bahwa ada perasaan yang disebut “cinta” masuk dalam diriku terhadap Runda, baru aku sadari “aku mencintainya” . Semua telah terlambat, ia sudah milik orang lain dan mungkin saat ini aku hanyalah sampah masalalu baginya. Aku murka pada diriku sendiri, mengapa baru aku sadari ia begitu berarti. Tapi setelah ia pergi.
Musim berganti, aku menjalani hariku tanpa Runda. Rasanya sepi tapi aku mulai terbiasa berjalan dengan menutup mata dalam kesepian itu. Saat ini aku tak lagi mendengar kabarnya, kami bagai matahari dan bulan yang tak pernah menyapa bahkan tak pernah bertemu. Takdir menjauhkan kami, keadaan membatasi kisah kami. Suatu ketika aku sangat merindukannya, benar-benar merindu seperti kaktus yang merindu hujan di padang pasir. Tapi bulan sesekali bertemu matahari dalam suatu gerhana. Ku buang semua keangkuhanku, ku hempaskaan harga diriku, aku memberanikan diri mencari keberadaannya, dan menanyai keadaannya. Niat baikku di sambutnya dengan baik pula.
“Runda ?” tanyaku di salah satu jejaring sosial
“eh iya dhet? Kemana saja kamu?” jawabnya
“kamu yang kemana saja ?” sahutku
“ponselku hilanng jadi tidak bisa menghubungimu” jelasnya
Saat ini ketika aku menulis cerita ini, perasaan yang menghancurkan persahabatan kami masih kokoh tumbuh dalam hatiku, jawaban atas kalimat bukan pertanyaan itu masih tersimpan rapih dalam benakku, aku masih mencintainya. Mencintai sahabatku yang mungkin sudah berhenti menghadirkan aku dihidupnya, dan entah sampai kapan aku menyimpannya. Waktu hanyalah waktu, masalalu sudah berlalu. Walaupun kami telah menjalin komunikasi kembali tetapi tetap saja aku merasa ada yang berbeda, seperti ada benteng yang membatasi kami, tiang persahabatan kami benar-benar telah runtuh, aku bukan siapa-siapa lagi baginya. Sebegitu berdosakah aku tak menjawab kalimat bukan pertanyaan itu ? sekecewa itukah ia padaku ? tidakah  ia mau mendaki lagi pada bukit harapan di hatiku? Kini aku telah kehilangan...

Dear Runda...
jangan pernah kamu lupakan bahwa kita pernah berjalan bersama
Jangan pernah kamu lupakan bahwa kita..
 pernah menjadi sepasang sayap yang memeluk langit...
Dan pada akhirnya kita adalah bahagia yang saling melukai
Kita adalah bunga yang bermekar pada musimnya
Kita hanyalah setia yang telah tiada
Dan kita adalah rindu yang tertunda
Kini aku telah kehilangan...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar