Kamis, 17 Agustus 2017

Cemburu



RINDU KATA RINDUMU

Kubaca kembali pesan singkatmu kala itu
Nyatanya kau pernah sebegitunya merindu
Dan aku pernah sebegininya pun begitu
Hilangmu terprediksi
Bodohku tak peduli
Aku dilucuti waktu
Ditinggal tapi tak mati
Aku dilucuti sendu
Tapi tak jua henti
Untukmu aku adalah tempat berpulang yang paling tenang
Lalu waktu menjadikan aku
singgahmu yang paling sungguh
Lacuri aku jika butuh
Aku ingin bercumbu rindu
Lacuri aku lagi jika perlu
Aku rindu kata rindumu
Lacuri aku lagi kalau begitu



Bogor,  23 Juli 2017
Oleh: Dhety Trihan



Hari itu rasanya rindu,  sangat rindu!!! 
Si jenuh menghantarkanku pada pesan singkatnya kala itu,  ketika kata rindunya masih menghiasi hari-hariku.  Aku tersadar, ternyata ia pernah sebegitunya merindu,  aku pun begitu.
Tapi sekarang rasanya sangat jauh,  tak lagi saling tunggu. Aku tahu.
Mungkin semua karena aku cemburu, atau karena ia tak lagi inginkanku. Intensitasnya mengabariku berkurang,  kukira ia sedang fokus pada dunianya.  Dunia yang ia lakoni sejak lama, sebelum mengenalku. Dan akupun tak masalah. Itu hidupnya, urusannya.
Ah nyatanya toleransiku buyar ketika tahu dia sedang menjalin kedekatan dengan wanita lain. Kukira itu haknya,  tapi kecewapun menjadi hakku. 
Kukira hanya aku, kukira ia menginginkanku, kukira aaaaah kira-kiranya manusia selalu saja salah.
Tak apa,  aku sering kali mengalah.  Tentu untuk kali ini juga. Tak ada salahnya jika ia memilih dekat dengan wanita lain,  toh aku dan diapun hanya dekat tak pernah terikat.
Memang ketidaksukaan itu seringkali muncul,  tapi kuredam sendiri,  memulihkan apa-apaku sendiri. Membayangkan ia berbincang dengan wanita lain,  membayangkan ia membacakan puisi untuk wanita lain.  Kok ya rasanya nyeri. Dan pada sampai akhirnya aku berhenti, tentu karena aku tahu ia tak lagi menunggu,  maka aku akan berlalu.
Sedikit usahanya meyakinkanku bahwa ia tak ingin berhenti komunikasi begitu,  nyatanya tak juga melunakkanku.  Aku tetap pada pendirianku,  mengalah adalah sifatku.
Aku perlahan mulai berjalan mundur, kali ini tanpa lambaian tangan,  berharap masih bisa melihatnya dari jauh walau agak sakit tersandung-sandung.  Nyatanya kok semakin hilang,  ditelan kabut.  Tak ada lagi. Dimana-mana tak ada dia.

Pada purnama berikutnya,  kucari tahu kabarnya.  Sekedar ingin tahu,  apa dia masih ada di bumi.  Kukira itu penting.
Nyatanya semua telah jauh berbeda, ia lebih tanggung dari yang kukenal beberapa waktu lalu. Coba mengungkit soal kedekatan ia dengan wanita itu, hanya ingin tahu sudah sejauh apa rasa mereka tumbuh, apakah lebih pekat dari apa yang aku rasa?
Aaaaah betapa terkejutnya aku bahwasanya ia tak pernah dekat dengan wanita itu. Semua hanya pikiran konyolku,  terlalu dini menelan informasi,  tanpa konfirmasi. Aku tak pernah sebegitu bodohnya dibudaki cemburu.  Mengambil keputusan tanpa ancang-ancang dulu.
Tapi semua sudah terjadi,  dan aku paham betul.  Bahwa jika semuanya telah berubah, entah keadaan ataupun perasaannya.  Kukira itu semua salahku. Mungkin hatinya sudah tak lagi padaku. Dan aku terima, kuanggap itu hukuman atas kelalaianku menjaga perasaanku sendiri. Ketika aku menjauh,  nyatanya ia juga.  Kami sama-sama menjauh.  Sempurnalah jarak kami. Dari yang jauh semakin jauh. 

Tapi aku percaya Tuhan maha membolak-balikkan hati manusia. 
Berdoalah, karena Tuhan lebih berkuasa.

Aku jadi ingat kutipan dari Ali Bin Abi Thalib :
"Sungguh wanita mampu menyembunyikan cinta selama 40 tahun.  Tapi tak dapat menyembunyikan cemburu walau hanya sesaat"


Kukira itu benar,  aku tak pernah merasa sebodoh ini.  Berlarut-larut atas kecemasan yang kuwaspadai sendiri. 

Hay....
Maaf karena aku telah sebodoh ini
Maaf karena aku sempat membuatmu meminta maaf
Maaf karena aku terlalu cepat berasumsi
Maaf karena nyatanya akupun pernah menginginkanmu. Entah untuk sekarang,  aku tak pernah berharap pada apa yang bukan milikku.
Semoga kau berbahagia,  semoga akupun bahagia. Kita sama-sama bahagia.
Karena yang terpenting untukku saat ini,  kamu masih ada di bumi. Selebihnya, terserah Tuhan.

Kamis, 10 Agustus 2017

AKU HAMIL




Jadi begini hahaha
Hari ini seperti biasa, rutinitasku sehari-hari selama kurang lebih tiga bulan ini.  Aku membeli air kelapa muda,  untuk diminum tentunya. Aku tidak akan menjelaskan kenapa aku minum air kelapa karena dalam tulisanku yang berjudul "INTUISI" sudahku jelaskan.
Sangking seringnya aku beli air kelapa,  dan entah kenapa si abang baru sempat menanyakan itu kepadaku.  Begini kira-kira pertanyaannya

"neng lagi hamil yah? Minum air kelapa setiap hari ?"

Ahahahaha sial aku dikirai hamil,  lalu aku jawab hanya dengan cengengesan berharap si abang mengerti kalau itu tidak benar. Wong pacar aja gak punya,  apalagi suami.
Dan dijalan pulang aku terbesit kejadian 3 tahun lalu, kira-kira saat aku Semester 3. Saat aku mengerjai temanku (namanya Fanny)  kukatakan kalau aku hamil hahaha dan dia percaya.  Oh Tuhan !!!!!
Dari delapan teman dekatku,  hanya dia makhluk yang percaya kalau aku hamil. 
Bermula ketika aku dimintai tolong oleh teman SMAku untuk menyebarkan undangan pernikahannya. Entah apa yang terjadi sebelumnya,  yang aku ingat aku mengatakan kalau undangan itu milikku,  aku akan menikah karena sudah dihamili duluan.  Entah kenapa makhluk berjidat lebar itu langsung mempercayainya,  padahal ia tahu betul bahwa aku sedang tidak punya pacar saat itu hahaha

(Ah maaf aku menulis blog ini sembari tertawa ngakak)

Lalu,  ketika di kampus otak jahatku terus memainkan kebohongan itu hahaha rasanya sungguh konyol melihat mimik mukanya yang khawatir akan aku, dan bayiku tentunya. Tapi sebelumnya teman-temanku yang lain saat aku kerjai mereka lebih bisa menebak kalau aku berbohong,  ah hanya fanny yang percaya haha aku lanjutkan saja.

"fan,  gue cerita ke anak-anak lainnya gimana yah.  Gue malu banget." kataku.

"gakpapa det,  jujur sekarang aja.  Kalau dirahasiain nantinya mereka bakal tau juga." sahutnya.
 
Aaaaaaaah sunggu, saat itu aku menjadi orang terkuat sejagad raya yang mampu menahan tawa dengan kondisi seperti itu wkwk
Hujan turun, kami terjebak di gedung akuntansi,  suasananya betul-betul mendukung drama brengsekku. Seakan Tuhan merestui bahwasanya aku mengerjai sahabat baikku itu.

"ke lantai dua aja yu. Disini becek, kecipratan air."

kata salah satu temanku, entah siapa.  Mungkin Ricky. Ketika kami mulai beranjak,  sahabat baikku yang sedang berlarut-larut atas kebohonganku berbisik lihir penuh ketulusan

"dhet,  hati-hati jalannya.  Licin."

Ahahahahahahahahahaha brengseeeeek!!!!!!  Aku ngakak.
Sumpah saat itu entah kekuatan dari mana,  jago sekali aku menahan tawa. 
Aku saja lupa kalau aku sedang berperan sebagai wanita hamil haha dia justru mengingatkanku. Betapa iblisnya aku saat itu,  nyengir atas ketulusan manusia lain.
Setelah sampai dilantai dua,  kekampretan teman-temanku yang lain mendukung penuh dramaku.

"lu mual det?  Kaya lagi hamil aja." 

aaaah aku ingat betul itu ucapan temanku si Dana haha.  Lalu aku saling pandang dengan fanny,  seolah-olah aku tersinggung.  Padahal... Hahahaha pasti saat itu fanny merasa ia mengetahui segala-galanya, tapi justru ia paling yang tidak mengetahui bahwa ia sedang dikerjai haha
Kami memutuskan menunggu di dalam salah satu kelas kosong, berharap hujan cepat reda karena kami lapar, bayiku juga lapar hahaha.

*didalam kelas kosong

"eh,  gue mau ngomong sesuatu.  Serius nih." kataku, 

lalu pandanganku tertuju kepada fanny,  seperti meminta dukungannya.  Tentu manusia baik itu pun mengangguk,  sangat yakin.  Dan sangat sedih tentunya.

"gini... Jadi gue bakal nikah," jelasku

Sebelum aku meneruskan,  pertanyaan-pertanyaan palsu temanku mulai menyerang. Ada yang berlagak tidak percaya,  ada yang diam saja seolah hanya ingin menyaksikan tidak ingin ikut-ikutan hahaha

"iya memang mendadak. Gue tau kok,  tapi sekarang gue lagi hamil." 

lalu aku menangis,  tapi tangisku pura-pura,  tidak dengan fanny.  Dia betul-betul sedih. Tapi aku tertawa kalau ingat hal itu haha

"dan sekarang gue udah jujur,  udah ngomong semuanya.  Terserah kalian masih mau jadi temen gue atau engga. Gue pasrah." lanjutku.

Lalu muka mereka terlihat heran,  entah sedang keheranan karena aku berakting bagus atau justru mereka sedang memperbagus aktingnya masing-masing.
Aku hanya menangis,  fanny juga.  Temanku Rita tidak,  karena dia tau aku sedang berbohong hahaha
Setelah hening beberapa saat,  aku meneruskan

"tapi ada satu hal lagi yang belum gue certain sama kalian semua.  Terutama fanny."

Wajah fanny berubah jadi pias,  seperti keheranan campur bingung mendalam.

"apa lagi dhet?" kata fanny.

Agar lebih klimaks aku menangis lagi,  tangisku lebih parah dari sebelumnya. Hanya untuk mendramatisir,  tapi sugguh,  saat itu aku menangis karena sedih.  Entah sedih kenapa,  karena melihat ketulusan fanny atau karena terlalu mendalami peran.

"gini fan, gue baru berani cerita ini sekarang sama lu.  Jadi...  Semua hal yang gue omongin tadi" 

aku diam sesaat,  menghela nafas panjang

"itu semuaaaa... BOHONG" 

HAHAHAHAHA lalu tawaku dan teman-temanku yang lain memenuhi kelas kosong itu,  menggema disela-sela isak tangis fanny.  Kukira ia akan ikut tertawa juga,  aaaaah aku salah besar !!!!! Dia menangis,  lebih sedih dari yang aku perankan tadi.  Sekecewa itu dia atas kebohonganku, terisak sampai sebegitunya.  Ada sedikit rasa sesal telah membohongi makluk Tuhan yang satu itu,  tapi aku bahagia.  Bahwasanya dia benar-benar telah menjadi sahabatku. Saat detik itu juga,  aku berjanji pada diriku sendiri akan mengecam siapapun yang membuatnya menangis.
Setelah agak tenang ia berkata

"gue tuh nyesek pas tau gue dibohongin.  Tapi gue juga lega karena itu semua cuma bohong."

Aaaah kalimat menetramkan,  kebahagian sederhana yang aku dapat hari itu. 
Maaf karena telah berdusta semahir itu. 
Maaf karena sudah repot-repot menangisi sahabat tidak tau diri ini.
Maaf juga sudah membuatmu khawatir sebegitu dalamnya.
Dan maaf jika aku selalu tertawa terbahak-bahak jika ingat kejadian itu hahaha 
tapi jujur mengerjaimu saat itu kok menyenangkan :p
aku cocok kan jadi artis? haha

Eeeeeh aku ingat,  ada satu manusi lain yang percaya kebohongan itu.  Namanya Hizkia ah biasanya aku panggil ia "Bama" karena mirip obama hahaha selain jidatnya yang juga lebar seperti Fanny,  nyatanya iya juga gampang dibohongi -___- seperti kejadian fanny tadi,  bedanya saat membohongi bama, si fanny sudah tahu kalau aku sedang bohong hahaha membuat drama kedua kalinya,  jadi tidak sebagus sebelumnya.  Tapi tetap saja si hitam itu percaya kalau aku hamil hahaha

"mau lu hamil atau apapun, lu tetep sabahat kita kok dhet.  Tenang aja kita terima lu apa adanya" 

dengan mata berbinar-binar yang sangat tidak singkron dengan kelakuannya sehari-hari haha,  makhluk konyol itu menjadi begitu serius ketika aku bohongi.
Bedanya, saat dia tau itu semua bohong. Justru dia tertawa hahaha tidak seperti fanny yang menangis.  Ah dasar laki-laki. Kurang perasa hahaha
Hari itu pekat sekali dalam ingatanku,  entah dengan ingatan teman-temanku yang lain.  Ini suatu keanehan yang pernah kurasakan.  Kok sebahagia ini sudah membohongi teman-temanku haha anggap saja cerita itu kenang-kenangan untuk kalian dariku.  Dan semoga Tuhan memaafkanku atas itu. Amin.



Bogor,  10 agustus 2017
18.01


Rabu, 09 Agustus 2017

Kewajaran





Tengadah aku
Mengirup wangi kejenuhan si mati
Ia hengkang dari peradaban hari
Meninggalkan si pesakitan ini
Tanpa aba
Berjalan tak berarah
Yang dia tahu
Enyah dariku adalah kudu
Tak begitu
aku telah cemburu pada waktu
Biru bercampur sendu
Si mati tetap tak mau tahu
Luas sekali angkuhmu
Aku telah hempaskan harga diri
Si mati menertawai lalu pergi
Lelucon ini
Aku ini
Tak akan mati tanpa si mati


Bogor,  02 juni 2017

11.35



Itu hari pertama ketika ia tak lagi mengganggu hari-hariku. Ah tak apa,  toh itu haknya. Dan sedih pun menjadi hakku.
Tapi sedihku masih bisa dikendalikan, kukira itu wajar.  Dia seperti laki-laki sebagaimana mestinya,  selalu menghujani lalu hilang, dan pergi. 
Dan akupun sebagaimana perempuan pada mestinya,  selalu percaya bahwa ia akan kembali lalu menyesal lagi nanti.

Minggu, 06 Agustus 2017

INTUISI

          Bermula pada hari kamis malam tanggal 3 Agustus 2017 kira-kira pukul 12 malam. Aku mulai terkantuk, padahal saat itu masih terlalu siang untuk manusia sepertiku yang sehari-harinya selalu insomnia. Eh insomnia disini dalam artian sebenarnya ya. Biasanya aku baru bisa tidur sehabis subuh atau bahkan pagi hari. Tapi karena beberapa hal baik yang rutin aku lakukan,  insomniaku mulai membaik.  Merasakan kantuk di jam 12 malam rasanya adalah sebuah anugerah haha kemajuan yang sangat besar dalam hidupku. Itu karena aku disarankan rutin meminum air kelapa hijau dan berolahraga oleh seseorang.  Kupikir bukan karena olahraganya,  tapi karena air kelapanya.  Jika hanya sekedar olahraga,  sebelumnya aku memang berolahraga tapi insomku tak berkurang.  Oh yah lanjut ke saat aku ngantuk tadi, sebelum aku tidur biasanya aku memanggil nama seseorang,  hmmm konyol memang. Perihal ini kira-kira sudah kulakukan selama 3 bulan belakangan hahaha ah malu. Aku dan dia percaya intuisi,  percaya kalau aku memanggilnya dari jauh dia akan merasakannya,  begitu juga sebaliknya. Malam itu rasanya sungguh rindu, maka kupanggil namanya banyak-banyak sampai aku tertidur.  Entah dia merasakannya atau tidak. Kuharap iya. Kali ini aku peduli. Semoga intuisinya pun tertuju kepadaku.

          Tapi malam itu rasanya aneh, sangat gelisah.  Tidak seperti malam-malam tenang lainnya,  lirih malam itu berbeda.  Lirihnya bercampur kengerian.  Aku keringat dingin, terbangun beberapa kali.  Sulit untuk tidur dengan nyenyak. Aku tertidur tapi rasanya isi kepalaku terganjal batu besar. Dan aku sadar betul kalau ada yang tidak beres denganku atau mungkin sekitarku?
Seperti biasa, kucoba mengatur kondisiku sendiri,  menenangkan diri, memulihkan apa-apaku sendiri.  Lalu mencoba tidur kembali.  Sampai pada pagi aku terbangun dengan gelisah yang sama. Rasa tidak enak itu masih melekat kuat dalam diriku,  aku berpikir keras apa yang membuatku begitu.  Jujur aku sedang tidak punya masalah berat yang mengharuskanku khawatir akan diriku sendiri. Atau mungkin karena malam itu aku sedang menstruasi, rutinitas perempuan yang tidak karuan rasanya, ah tetapi biasanya tidak sebegitunya kok. Jika pun ada yang sedang menggangguku,  kukira itu hanya rindu.
       
         Hari itu aku menjalani hariku seperti biasa,  mencoba melupakan apa yang kurasa sejak semalam. Ah pada siangnya aku baru sadar kalau tadi malam itu malam jumat,  ah ngeri sekali mengingatnya. Haha aku penakut?  Iya memang, biarin!
Sampai pada malam kedua dimalam sabtu, sama seperti hari sebelumnya jam 12 malam aku sudah mulai mengantuk hahaha air kelapa itu supeeeer sekali. Selalu menentramkan. Sama seperti manusia yang menyaraninya, ah aku jadi candu air kelapa karena dia.  Hal konyol yang aku lakukan ketika aku rindu akan dia,  aku selalu melakukan hal-hal baik yang ia sarankan. Dengan begitu aku rasa aku sudah menyampaikan rinduku. Memang konyol,  jika kau ingin menertawaiku aku persilahkan.

Oh iya tapi untuk malam itu, karena sangat mengantuk aku lupa memanggil namanya. Lelap lebih dulu datang. Baru sekejap aku terlelap, aku mendengar ada yang memanggil namaku.  Entah itu suara laki-laki atau perempuan tapi panggilan itu sontak membuatku terbangun. Kaget rasanya,  jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku mencari-cari botol minum karena rasanya krongkonganku mengering dan sakit sekali. Keringat bercucuran seperti malam sebelumnya,  tapi dingin. Rasanya gelisah,  bingung sekali. Ah aku yakin sebelumnya aku sedang sehat-sehat saja.
Lalu kupulihkan diriku kembali, kutanamkan pikiran-pikiran baik,  kuanggap saja dia yang kemarin kusebut namanya sedang menyebut namaku juga malam ini, lalu diterima dengan pintar oleh intuisiku. Ah seperti biasa aku menenangkan diri kembali lalu terlelap lagi. 

          Dalam tidurku kali ini aku bermimpi ada sosok wanita yang memperhatikan ketika aku sedang tertidur,  lalu aku beranikan diri menatapnya balik. Berharap jika aku kuat-kuat menatapnya, sosok itu akan hilang dengan sendirinya. Ternyata tidak !!! justru wajah wanita itu semakin jelas karena kuperhatikan dalam-dalam.  Dia hanya menatapku tidak melakukan pergerkan apapun,  lalu dimimpi itu aku gagap tidak bisa teriak sampai pada aku mencoba meyakinkan diriku sendiri kalau itu hanya mimpi. Lalu aku terbangun,  tapi wajak sosok wanita sangat melekat dalam ingatan. Pekat sekali mimpiku malam itu. Mimpi paling buruk yang pernah aku alami. Rasanya malam itu aku ingin lenyap saja dari bumi. Banyangkan betapa ngerinya,  aku merasa diwaspadai. Merasa ada makhluk lain disekitarku yang sedang memperhatikan gerak-gerikku. Aku sama sekali tidak berani melakukan pergerakan apapun,  hanya berselimut sambil pura-pura memejamkan mata. Lalu aku (selalu) ingat dia yang namanya sering kusebut sebelum tidur,  dan memberanikan diri mengirimkan pesan singkat untuknya. Tapi tak ada jawaban. Seperti hari-hari kemarin. Haha sudah biasa.

Ah betapa bersyukurnya aku ketika tahu ternyata ada temanku yang masih terjaga,  lalu aku menjelaskan padanya apa yang kurasa.  Lalu dia menawarkan diri untuk menemani, walau hanya di aplikasi pesan singkat saja. Tapi itu cukup membantu, mengalihkan pikiranku. Berbincang sampai subuh,  lalu aku dengar suara mamaku yang sudah terbangun.  Ah rasanya tentram, seperti dilindungi dari segala jenis bahaya.
Lebih bahagianya lagi aku mendengar adzan subuh huuuuh entahlah sejak dulu aku berpikir bahwa adzan subuh adalah sebuah peringatan bahwa makluk halus harus menjauh dari manusia hahaha jangan protes atas pikiranku,  ini kan otakku, hakku!!! 

Malam selanjutnya seperti biasa,  seperti malam-malamku yang lain aku tetap menyebut nama dia yang selalu kusebut. Dengan harapan tak ada yang bersaut menyebut kembali namaku. Biar begitu saja. Sepi, tak ada jawaban.  Aku suka menerka-nerka.  Begitu saja... Aku suka.




Bogor, 06 agustus 2017
18:07