Tengadah aku
Mengirup wangi kejenuhan si mati
Ia hengkang dari peradaban hari
Meninggalkan si pesakitan ini
Tanpa aba
Berjalan tak berarah
Yang dia tahu
Enyah dariku adalah kudu
Tak begitu
aku telah cemburu pada waktu
Biru bercampur sendu
Si mati tetap tak mau tahu
Luas sekali angkuhmu
Aku telah hempaskan harga diri
Si mati menertawai lalu pergi
Lelucon ini
Aku ini
Tak akan mati tanpa si mati
Mengirup wangi kejenuhan si mati
Ia hengkang dari peradaban hari
Meninggalkan si pesakitan ini
Tanpa aba
Berjalan tak berarah
Yang dia tahu
Enyah dariku adalah kudu
Tak begitu
aku telah cemburu pada waktu
Biru bercampur sendu
Si mati tetap tak mau tahu
Luas sekali angkuhmu
Aku telah hempaskan harga diri
Si mati menertawai lalu pergi
Lelucon ini
Aku ini
Tak akan mati tanpa si mati
Bogor, 02 juni 2017
11.35
Itu hari pertama ketika ia tak lagi mengganggu hari-hariku. Ah tak apa, toh itu haknya. Dan sedih pun menjadi hakku.
Tapi sedihku masih bisa dikendalikan, kukira itu wajar. Dia seperti laki-laki sebagaimana mestinya, selalu menghujani lalu hilang, dan pergi.
Dan akupun sebagaimana perempuan pada mestinya, selalu percaya bahwa ia akan kembali lalu menyesal lagi nanti.
Tapi sedihku masih bisa dikendalikan, kukira itu wajar. Dia seperti laki-laki sebagaimana mestinya, selalu menghujani lalu hilang, dan pergi.
Dan akupun sebagaimana perempuan pada mestinya, selalu percaya bahwa ia akan kembali lalu menyesal lagi nanti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar